Catatan Jhoni

Inspirasi dan Informasi

"Ditulis dengan Hati dan Hati-hati"
Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin Path Gmail

Menjelajah (masa lalu) di antara petak sejarah

Suasana Alam dan Kondisi Bangunan Candi Muarojambi
Candi Tinggi (fhoto by Jonathan Zilberg)

Menyambangi dan mempelajari situs-situs sejarah (masa lalu) memang selalu menarik.  Ia menjadi semacam jendela. Jalan masuk ke kehidupan lain, pada masa-masa sebelum sekarang.  Masa di mana titah raja masih dianggap sabda. Masa silam, saat alam dan penghuninya masih bersaudara dekat, barangkali.
Atau—mungkin juga seperti cerita orang tua—pada masa tersebut raja-raja agung mendirikan bentengnya di daratan. Dan para lanun menjinakkan ombak di lautan.

Namun, masa itu pula, saat ini terasa masih kelam. Kabur, dan sulit terlihat, sebagaimana ia juga tidak mungkin dilupakan begitu saja.
Masa lalu Melayu (khususnya Melayu Jambi) masih teronggok di tepian peradaban. Ia seperti tekunci dalam kotak Pandora, atau tengah terkubur di Svarnadvipa—di bumi tempat peradaban itu pernah berjaya.
Bermaksud menguak (sedikit demi sedikit) masa lalu itulah, kami berlima (Jonathan Zilberg, M.H. Abid, Joko, M. Husni dan saya sendiri) mendatangi Situs Percandian Muaro Jambi (SPMJ), yang terletak di Kecamatan Muaro Sebo Kabupaten Muaro Jambi Propinsi Jambi, pada akhirJuni lalu.
Pagi-pagi sekali, kami menjejaki satu demi satu—maksud saya tidak semua. Hanya beberapa saja—bangunan Candi yang sebagian besar masih belum diekskavasi. Hanya berjalan kaki, kami mengunjungi situs-situs kuno tersebut.
Perjalanan yang sangat mengasyikkan. Melewati lahan pertanian warga setempat, menerobos kebun kakao, menyusuri kanal kuno, dan meniti jembatan yang memotong kanal, adalah beberapa jalur perlintasan yang kami telusuri.
Kami memulai perjalanan dari Desa Muaro Jambi. Sebuah desa yang letaknya persis masuk dalam Kawasan Percandian Muaro Jambi.
Di desa ini, tempat persinggahan sementara (bagi kami) waktu itu adalah rumah pemuda setempat. Husni namanya—seperti telah disebutkan di awal. Seorang sahabat, yang sekaligus menjadi guide selama perjalanan.
Dari kediaman Husni, kami menyusur setapak menuju belakang kampung. Di kiri-kanan jalan, berderet rumah-rumah panggung  Melayu Jambi.  Sepanjang perjalanan kami berjumpa dan bertegur sapa dengan penduduk setempat. Orang-orang dengan keramahan khas desa melayu.
Setelah melewati rumah terakhir, jalur setapak yang kami lewati, berganti jalan tanah. Jalan ini berbelok ke arah kanan, menuju kanal kuno. Konon, kanal tersebut juga dibangun bersamaan dengan pembangunan candi-candi yang ada di kawasan itu. Kami selanjutnya meniti Jembatan yang memotong kanal kuno tersebut. Jembatan ini terbuat dari balok (kayu gelondongan). Tekstur kayunya  terlihat sudah mulai melapuk. Mungkin jembatan tersebut sudah cukup tua, atau bisa jadi lapuknya kayu disebabkan terendam air kanal dan terpapar terik matahari. Suhu yang bergantian secara konstan diduga menjadi penyebab terjadinya pelapukan kayu.
Posisi balok yang jauh di bawah tebing kanal, membuat kami leluasa bermain air. Secara bergiliran, kaki-kaki kami  terendam air kanal. Airnya dingin, apa lagi saat itu sinar matahari belum begitu berpengaruh terhadap suhu air permukaan.
Mentertawakan berbagai macam hal sepanjang jalan, menjadikan perjalanan pagi itu semakin santai.
Rute yang kami lewati, tentu tidak menelusuri keseluruhan kawasan percandian. Wilayah itu—dengan segala histori, keunikan dan kekhasannya—terlalu besar untuk ditelusuri dalam satu kali perjalanan. Kami hanya datang ke beberapa lokasi saja. Waktu yang kami sepakati untuk berkeliling dan melihat-lihat candi, hanya sampai tengah hari. Pertimbangannya sederhana, jika hari sudah terlalu siang, matahari sudah mulai meninggi, dan cuaca waktu itu akan sangat panas. Selain tidak membawa penutup kepala: payung dan jenis lainnya, hampir semua candi (juga menapo) berada di lahan terbuka. Sehingga, sepenggalah saja matahari meninggi, teriknya sudah akan terasa.
Candi pertama yang kami kunjungi adalah Candi astano. Jika sebelumnya kita dari kanal kuno, untuk sampai ke lokasi tersebut hanya perlu membelok ke kanan, lantas menyusuri jalan setapak. Dari ujung jalan beton ini bisa terlihat Candi Astano.
Sesampainya di Astano, matahari sudah setinggi bubung rumah. Panasnya sudah terasa menyengat di ubun-ubun.
Ketika menyusuri setapak menuju candi, kami berjalan cepat sekali. Sesekali waktu kami berhenti: mengamati beberapa jenis pohon dan tanaman yang tumbuh maupun sengaja ditanam di lokasi bersejarah itu. Di kiri-kanan jalan setapak, kita bisa melihat pohon durian, duku, rambutan dan karet. Selain itu, juga terdapat tanaman kakao yang ditumpangkan dengan kacang tanah.
Bahwa di kawasan percandian ini pernah ada peradaban melayu, dulu, itu sudah diulas beberapa peneliti dan sejarawan.
Jika merujuk pada penetapan oleh Pemda setempat, luas situs kuno itu adalah 2612 Ha. Namun, jika mengacu pada  luas semua kawasan yang dianggap termasuk situs cagar budaya itu, luasnya bisa lebih 12.000 Ha.
Kawasan percandian Muaraojambi telah menuai pujian dan simpati, serta dikenal oleh warga dunia, namun juga menyimpan problem tersendiri. Tidak sedikit ditemukan candi—yang teridentifikasi dan tercatat dalam peta Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi—yang masih berbentuk menapo. Belum direklamasi. Di saat bersamaan, terdapat stock pile batu bara dan tempat penampungan CPO, berada tidak jauh dari beberapa menapo. Lokasinya masuk ke dalam Kawasan Percandian Muaro Jambi—mengacu luas keseluruhan kawasan yang lebih 12.000 Ha tersebut.
Kegiatan di dua jenis industri tersebut, secara langsung peralahan-lahan akan mengikis batu-batu (bata) masa lalu tersebut. Merusak perekat antar petak bata.
Kenyataan tersebut, kini menjadi gambaran bagaimana masa lalu itu sendiri. Beberapa petak sejarah mungkin saja mulai (dan terus) terkikis, sebagaimana kuat upaya penggaliannya kembali. Sementara perekatnya, seperti situs-situs sejarah, mulai rusak. Ini membuat jarak antara masa lalu menjadi terputus dari masa sesudahnya.
Di luar itu semua, menelusuri kawasan percandian Muaro Jambi , dengan segala pengalaman dan catatan sejarahnya adalah sejarah tersendiri bagi kami. Setidaknya, itu bisa menambah setapak jalan menguak sejarah melayu—khususnya sejarah Melayu Jambi—yang masih memerlukan banyak pengungkapan.
Labels: Candi Muarojambi, Catatan Perjalanan, Kuno, melayu, Sejarah

Thanks for reading Menjelajah (masa lalu) di antara petak sejarah . Please share...!

Inspirasi dan Informasi Lainnya

Kata Mutiara

Kata Mutiara
Menulis adalah kodrat yang tak boleh pupus oleh alasan apa pun. Karena bersama itu, kita akan menyadari arti pentingnya belajar, membaca, dan berbagi.
Back To Top