Sekantong Kejujuran dari Penjual Roti Keliling



Bila jarum jam sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB, biasanya lelaki baya itu akan lewat di depan rumah kami. Kedatangannya ditandai sayup suara yang sudah biasa kami dengar.

"e' oooot, e' oooot".

Suara itu adalah bunyi bell atau klakson, atau terompet penjual roti keliling langganan dua anak kami.

Pagi ini, seperti biasa, dia lewat lagi. Dan mampir di depan rumah. 

Kedatangannya tentu saja setelah diundang oleh dua anak kami, Azka dan Sabina. Sebelumnya ia membawa dan menawarkan dagangannya menyusuri seberang jalan.

Setengah berlari ia datang dengan dua gerobok roti yang menggantung di ujung dua sisi kayu pikulannya. Kedatangannya disambut dua bocah dengan teriakan riang gembira.

"Maang.. roti maang," panggil dua bocah saling kejar.

Dua anak kami memang sudah tidak asing dengan mamang penjual roti. Entah dari mana pula panggilan "Mamang" ini berasal. Yang dipanggil Mang adalah orang dari pulau seberang. Saya sendiri tak pernah mengonfirmasi apakah panggilan itu pas atau tidak untuknya.

Pagi tadi itu Azka dan Sabina anak kami meminta masing-masing dua roti. Saya sendiri sudah menyiapkan uang empat ribu untuk membayar jajan mereka.

Usai mengambilkan roti yang dipilih kedua bocah, Mamang roti, demikian kami memanggilnya, mengajak saya bicara.

"Kemarin, itu kan beli rotinya enam. X*$@+"$&+"*#*-&$," kata dia dengan nada pelan.

"Maksudnya kurang, gitu?" tanya saya. 

Yang cukup bisa saya mengerti hanya, "kemarin kamu beli roti". Selebihnya dia gunakan bahasa ibunya. Saya mengangguk sambil menyelami arti kata-katanya itu.

Mamang roti mengulang kalimatnya dengan isi kurang lebih sama. Yang intinya, dia masih memyimpan uang saya. Saya kemarin beli roti enam, tapi membayar delapan ribu.

Ia pun merogoh kantong kecil dari tas selempangnya. Ia sodorkan dua pecahan seribuan, yang satu kertas, satunya uang koin.

Saya tak menyangka dia bisa simpan uang yang lebih bayar itu sedemikian rapinya. 

"Kemarin mau balik kesini, udah terlalu jauh." Dia menjelaskan kembali dalam bahasanya, kira-kira artinya itu.

Saya sangat memercayai apa yang ia katakan. Buktinya uang lebihan itu disimpan terpisah.

Sebenarnya sempat terjadi tolak-menolak juga soal uang itu. Saya bilang tidak apa, simpan saja. Dia masih menyodorkan uang dua ribuan itu.

Akhirnya, saya pun langsung meminta dia kembalikan dalam bentuk roti saja. Saya sendiri yang pilih sesuai harga dan selera. Dua roti lalu dimasukkan ke kantong dan diserahkannya.

Meski mengembalikan uang dari kelebihan bayar yang tidak seberapa, tapi penjual roti keliling ini sudah memberikan pelajaran yang berharga. Betapa kejujuran itu menghidupkan dan membahagiakan. 

Dia terbebas dari makan uang yg bukan haknya, sekaligus dapat tambahan dua roti lagi yang laku pagi ini. Saya bahagia, dia pun tak kalah bahagianya.

Kadang, pelajaran mahal itu tidak didapat dari kampus ternama, Tuhan acap meletakkannya pada interaksi dan kejadian-kejadian kecil di pinggir jalan.

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.