Malam Pertama di San’a


Kami tiba di tempat itu pukul 19.50 WIB. Sebuah bangunan Homestay dengan latar danau menanti di tengah dinginnya malam yang sedikit berkabut. Malam ini, dan untuk malam berikutnya, kami akan menginap di penginapan “Syari’ah” ini.


Namanya San’a Homestay. Saya sempat googling kata San’a, dan yang pertama saya temukan adalah nama sebuah kota besar yang sekaligus Ibukota Negara Yaman. Mungkin pemilik Homestay—yang kebetulan seorang Ustadzah—punya kesan tersendiri terhadap negeri yang terkenal dengan tanah para Waliyullah tersebut.


Soal nama San’a, itu tak perlulah kita bahas terlalu jauh. Tapi soal Homestay yang (berani melabeli diri) Syari’ah, mungkin ini satu-satunya yang ada di daerah ini. Namanya San’a Danau Pauh Homestay Syari’ah. Bisa searching di google map.


Sebenarnya, tidak jauh dari Homestay yang kami sewa itu, juga ada penginapan sejenis lainnya—meski tanpa “syari’ah”. Kalau tidak salah ingat, namanya Farish Homestay. Jaraknya barangkali hanya berkisar 30 – 40 meter. Bisa berbalas senyum jika dua orang sedang sama-sama berada di balkon kedua Homestay.


Saya berkesimpulan, kedatangan kami di daerah ini—yang mana kami semua sama-sama baru pertama kali ke sini—disambut dengan kesejukan demi kesejukan. Udara yang sejuk, dan nama Homestay yang juga mengundang kesejukan di hati.


Dua orang di antara kami, dengan teliti melihat-lihat dan memeriksa fasilitas dan tempat tidur di Homestay. Saya sendiri masih berada di luar dan menikmati suasana malam dengan temaram lampu rumah penduduk yang ada di beberapa bagian sekitar Danau Pauh.


Puas mengecek dan mencoba berbagai pilihan ruangan, kedua orang yang saya temani ini memutuskan memilih kamar di lantai dua (dari dua lantai) yang berada di dekat balkon depan.


Sudah dapat kamar tidur, berikut kasur dan selimut serta bantalnya, bukan berarti semua siap. Karena ada perut yang minta diisi. hehe...


Suhu dingin di Pulau Tengah yang waktu itu berada di bawah angka 20 derajat celcius, memancing semua fokus anggota tubuh tertuju ke satu titik pusat. Jadinya, malam ini kami bertiga kembali menerobos malam untuk mencari sekedar penghilang lapar.


Saya sempat terkagum-kagum dibuatnya ketika melihat di pinggiran jalan yang sama yang tadi kami lewati, ternyata ada bunga bermekaran dengan berbagai warna.


Malam ini indah, ada bunga-bunga yang bermekaran, ada bintang yang pelan-pelan mulai mengintip dari balik awan. Rasa lapar akhirnya hilang sejenak.


Tapi, betul-betul itu cuma sejenak. Karena setelah melewati deretan bunga-bunga, sang lambung kembali berunjuk rasa. Piuuhh...


Ada dua warung makan terdekat dari Homestay, yang tadi diam-diam saya tandai saat kami lewati. Jika dari posisi kami berhenti di bawah gapura, satu warung makan terletak di arah kiri, mengikuti jalan kembali ke Kota Bangko. Satunya lagi yang ke arah kanan, menuju Muara Madras.


Kami berhenti tepat di bawah gapura. Posisi mobil kami berhenti di persimpangan jalan. Jika mundur, mobil bisa kembali ke Homestay, dan atau bisa terus mengikuti jalan tersebut yang langsung ke Desa Rantau Kermas.


Kami akhirnya memilih warung nasi yang di kanan, menuju Muara Madras, setelah mencoba peruntungan di warung yang berada di kiri.


Soal arah kanan dan kiri ini sebenarnya ada cerita menarik. Itu ketika kami masih di perjalanan Jambi – Merangin, kemarin. Dalam perjalanan kami berkelakar, ketika jalan yang kami lewati selalu mengambil arah kiri.


Ada satu pertanyaan tentang jalan yang ke arah kanan di setiap simpang akan menuju kemana. Karena, hampir selalu kami memilih kiri.


Seseorang di antara kami menyebut, itu (jalan ke kanan) menuju surga. Suasana pecah oleh tawa. Itulah jalan kanan, untuk golongan kanan, timpal yang lain,  memperhebat tawa seisi mobil.


Malam ini kami beruntung menjadi golongan kanan. Homestay di sebelah kanan jalan, dan simpangnya mengambil arah kanan. Warung makan tempat beli nasi juga berada di kanan jalan, dan letaknya juga mengambil arah kanan jika dari simpang ke homestay.


Malam ini meski makan malam terkategori telat, tapi ia menjadi lengkap setelah Surat Yasin dibaca dan doa-doa dipanjat. Saya habiskan makanan dalam porsi jumbo, sementara dua orang teman di ruangan itu hanya mengambil separuh dari bagiannya.


Angin dingin makin menusuk terasa bertiup menembus pori-pori kulit. Kelopak mata semakin berat. Perut sudah terisi penuh.


Tapi, saya tak mau menyerah dengan kantuk. Saya baru akan tidur setelah agak lama, menunggu makanan malam ini banyak dicerna dalam tubuh.

**


bersambung

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.