Catatan Jhoni

Catatan Jhoni

Inspirasi dan Informasi

Catatan Jhoni

"Ditulis dengan Hati dan Hati-hati"
Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin Path Gmail

Cerita dari Kibuk


Foto: istimewa
*Jhoni Imron

“Sampai kapan pun lahan ini akan kami pertahankan. Tidak boleh ada yang menjual. Jangan sampai berpindah tangan ke orang lain. Ini harus kami jaga bersama.”
“Intinya, kita ingin hutan lestari dan masyarakat sejahtera,”
-Rusi.


Udara yang segar, suhu dingin yang masuk di pori-pori kulit, menyambut kami ketika bertamu ke rumah Pak Rusi, waktu itu. Lokasinya di dataran tinggi Pagar Alam, tepatnya di RW Gunung Agung Pauh Kelurahan Agung Lawangan Kecamatan Dempo Utara, Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan. Membutuhkan waktu kira-kira 20 menit perjalanan menggunakan sepeda motor untuk sampai ke sana, jika dari pusat kota.

Rumah Pak Rusi dicat putih. Di sekeliling rumah ditanami berbagai jenis tanaman. Ada pepino, strawberry. Di bagian kiri dan belakang rumahnya didominasi tanaman jeruk, orang lokal menyebutnya Limau Gergah atau Jeruk Gergah.Tanaman buah inilah yang dibudidayakan Pak Rusi beberapa tahun terakhir.

Dari Arsitektur Terjun Bertani

Rusi sendiri adalah jebolan Fakultas Teknik Sipil Universitas Gajah Mada, jurusan Arsitektur. Di Kampus itu laki-laki yang bernama lengkap Rusi Siruadi ini diberi gelar sarjana (ST) pada 2001. Saat ini sehari-hari ia berkativitas sebagai konsultan perencanaan, selain itu sebagian besar waktunya lebih banyak dicurahkan untuk kegiatan bertani. Ia menyebut jika pekerjaan dan profesi petani sudah dia jiwai karena sejak kecil dicontohkan kedua orang tuanya.
 
“Saya sejak kecil dulu sudah melihat, dan ikut orang tua bertani, berkebun. Dulu kopi. Jadi sudah tertanam dalam diri saya untuk bertani ini,” kata Rusi, yakin.

Kami sempat diajak Pak Rusi masuk ke kebun jeruk yang mengitari rumahnya, dan pengalaman mencicipi manisnya jeruk gergah yang baru dipetik dari pohon. 

Diberi pengalaman seperti ini, kami pun yakin dengan pilihan Rusi sebagai arsitektur yang bertani bukan perkara kebetulan apalagi kecelakaan. Selain mengurus lahan pertaniannya, Rusi juga menggawangi Kelompok Tani Kibuk, salah satu kelompok tani yang mendapatkan izin HKM. Jadilah Rusi sebagai arsitektur yang banyak berpraktik di bidang pertanian dan perhutanan sosial.

HKM Kibuk

Setelah pertemuan perdana pada akhir 2018, Kami kembali mengunjungi Pak Rusi medio Juni 2019. Dulu pembicaraan kami masih seputar bagaimana pengurus dan anggota Kelompok Tani Kibuk mulai mengelola lahan Hutan Kemasyarakatan (HKM). Kali ini pembicaraannya sudah maju selangkah. 

Rusi bercerita banyak soal kemajuan lahan di Kibuk setelah lebih satu setengah tahun pasca ditetapkan sebagai HKM. Di sana warga sudah mulai banyak  menanam dengan tanaman keras kembali. Seperti Kopi, Alpukat, Jeruk, Nangka. Sayur hanya menjadi selingan menjelang tanaman tahunan mulai tinggi dan mulai menghasilkan.

Memang sejak tahun 60-an, di lahan HKM Kibuk warga sudah bertanam kopi. Makanya, sebagian besar lahan di Kibuk memang berupa kebun Kopi. “Kopi, terus ada alpukat. Ada Limau gergah sekitar 5 Ha,” Rusi menjelaskan.

Soal pilihan jenis tanaman, Rusi memastikan jika sebenarnya yang dipilih anggotanya adalah tanaman yang berpotensi wilayah. Yang cocok ditanam di lahan tersebut seperti  Kopi, Alpukat, Nangka, Durian. 

Untuk lahan seluas itu memang butuh biaya yang sangat besar. Makanya berdasarkan pengakuan Rusi, selama ini bibit-bibit tanaman lebih banyak diperoleh dengan cara swadaya. “Kita sudah swadaya beli bibit kopi sampai Semende (nama daerah, Pen). Kita beli bijinya, lalu disemai sendiri,” ungkap Rusi.

Di lahan yang Dia kelola sendiri, Rusi sudah menanam kopi, dengan tanaman naungan Nangka atau Petai.Soal penentuan jenis tnaman ini menurutnya harus tanaman yang terbukti cocok dan sudah diusahakan sejak dulu. “Kita bisa menentukan berdasarkan pengalaman empiris yang dilakukan masyarakat di sini selama ini,’ sebut Rusi.

Rusi bersama anggota kelompoknya bisa jadi termasuk salah satu yang beruntung. Lahan usaha tani mereka yang hingga 2013 masih sering mejadi objek konflik dan berstatus Hutan Lindung juga beberapa luasan masuk wilayah PTPN VII, akhir 2017 sudah disahkan dan diserahkan hak pengelolaannya kepada kelompok yang mereka bentuk.

“Yang jelas, selama 35 tahun ke depan, kami sudah merasa aman dan nyaman mengelola lahan,” ungkap Rusi saat ditanya bagaimana perasaannya pasca dapat SK HKM. 

Lahan yang mereka usulkan sejak 2013 lalu disahkan dengan SK Nomor: SK.5756/MENLHK-PSKL/PKPS/PSL.0/10/2017. SK ini Berisi Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia tentang Pemberian Izin Usaha Pemanfaatan Hutan dan Kemasyarakatan kepada Kelompok Tani Kibuk Seluas ± 440 (Empat Ratus Empat Puluh) Hektare Pada Kawasan Hutan Lindung di Kelurahan Agung Lawangan Kecamatan Dempo Utara Kota Pagar Alam Provinsi Sumatera Selatan. Dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tanggal 30 Oktober 2017.

Di lahan seluas 440 Ha yang di-SK-kan ini, oleh anggota kelompok ditanami berbagai jenis tanaman buah (tanaman tahunan berkayu). Warga juga mengusahakan beberapa jenis tanaman sayuran yang pasarnya selalu tersedia di desa. Selain itu, mereka juga sudah mencadangkan 50 Ha dari luasan tersebut khusus untuk hasil hutan bukan kayu (HHBK).

“Kewajiban kita menjaga kelestarian lingkungan. Makanya selain tanaman tahunan, kita juga alokasikan 50 Ha lahan untuk HHBK,” kata Rusi.  

Pasca ditetapkan sebagai HKM, bukan berarti semua beres. Kelompok Tani Kibuk harus terus menunjukkan komitmennya menjaga lahan dan kelestarian lingkungan. Mengenai hal ini, Rusi mengaku sering mengingatkan anggota untuk mengelola lahan dengan baik dan memanfaatkan kesempatan pengelolaan lahan setelah masuk skema perhutanan sosial (HKM).

“Saya selalu bilang sama anggota, ‘dulu, waktu Belanda menjajah kita, datang ke negeri ini, karena perkara tanah. Tanah kita ini kan kaya. Subur. Begitu pula yang terjadi ke depan. Coba kita bayangkan, penduduk setiap tahun bertambah, tanah kan luasnya tetap. Tidak bertambah dan tidak berkurang. Maka sudah pasti banyak orang akan melakukan berbagai cara untuk memperebutkan tanah,” jelas Rusi.

Dia menegaskan di tahun-tahun ke depan, soalan tanah dan kepemilikan tanah masih akan banyak menjadi pangkal permasalahan konflik di masyarakat. Kepada kami, Rusi membeberkan pesan Presiden Jokowi ketika pertemuan dengan penerima izin perhutanan sosial. 

Jokowi waktu itu mewanti-wanti agar masyarakat yang diserahkan kuasa pengelolaan dengan skema Perhutanan Sosial bisa menjaga tanah yang di-SK-kan tersebut. Karena, kata Pak Jokowi waktu itu, begitu SK dikeluarkan, pasti ada dan mungkin banyak yang akan datang, untuk meminta agar ikut diberikan hak kelola tanah. 

“Sekarang kan terbukti. Bahkan banyak yang datang dengan berbagai cara dan rayuan menemui kami untuk mendapatkan sebagian dari lahan di Kibuk,” ungkap Rusi.

Meski begitu, Rusi selalu menyebut akan menjaga agar lahan yang di-SK-kan tersebut tetap utuh dimiliki anggota kelompok. Dijaga dan dikelola sesuai aturan dan kewajiban bagi pemegang izin perhutanan sosial. “Sampai kapan pun lahan ini akan kami pertahankan. Tidak boleh ada yang menjual. Jangan sampai berpindah tangan ke orang lain. Ini harus kami jaga bersama,” tegasnya.

“Intinya, kita ingin hutan lestari dan masyarakat sejahtera,” demikian Rusi.

Harus Kuat




Ba’da Maghrib, Imron tak lantas keluar Mushalla. Ia masih menambah dua rakaat shalat ba’diah. Selepas salam ia baru sadar ada aroma menyengat yang makin menusuk-nusuk hidung. Baunya seperti abu. Seperti ada yang terbakar. Pikirannya mulai bertanya-tanya. Siapa yang memanggang sampai segosong ini?

Di luar kabut pelan-pelan kian tebal menyelimuti malam. Asap putih seakan ingin menampakkan wujudnya di bawah remang cahaya lampu jalan. 

Imron lalu keluar. Ingin sekali ia segera mencari tahu penyebab bau gosong dan kabut yang datang malam ini. 

Terdengar olehnya percakapan dua orang jamaah Maghrib di teras Musholla.

“Asap apa ini, ya?,” tanya yang lebih tua.

“Kebakaran,” jawab yang satunya.

Sejurus kemudian, lima truk batu bara melintas dengan sedikit jeda. Truk-truk terlihat menyibak asap dan meninggalkan kabut yang lebih tebal. Asap bercampur debu menampar wajah Imron saat berkendara menelusuri sempadan jalan.

Imron bergumam sejenak. Apakah truk ini yang sebabkan asap? Jika kebakaran, kebakaran di mana. Seharian belum ada ia dapat info kebakaran di Batanghari.

“ah.. sudahlah,”gumamnya.

Di perjalanan pulang, soal asap masih menyita 80 persen pikiran Imron. Ia semakin cemas. Anak laki-lakinya sudah lebih semingguan ini pilek dan hidungnya tersumbat jika tidur. Obat-obat yang dia berikan tak menunjukkan reaksi menyembuhkan pada buah hatinya itu. Besok ia harus lagi memikirkan air sumur yang hanya cukup untuk mandi dan buang hajat. 

Merah putih di tiang depan rumah Imron menyambutnya dengan kibaran yang malas. Imron berhenti dan memandang bendera yang baru tadi pagi ia pasang di tiang itu.

Sejenak... Ia termenung.

“Rakyat memang harus harus kuat, menghirup asap, menikmati musim kering dan kemarau, dan mandi debu batu bara,” Imron menarik nafas panjang. 
***

Identitas dan Politik Identitas

Catatan Jhoni - Tidak ada yang salah dengan menguatnya (penguatan) identitas individu dan sosial. Setidaknya ia menjadi   tempat berkaca soal asal-usul kita. Bisa menjadi jembatan sejarah atau sekedar nostalgia. Bisa pula sebagai panduan bersikap dan bertindak.

Identitas sosial (dalam hal ini ambil saja misalnya, suku, agama, ras atau kedaerahan) ia menjadi perekat bagi individu-individu, anggota komunitas/masyarakat dalam satu kesamaan identitas tersebut. Terlebih saat berada di suatu tempat yang jauh dan asing. Kesamaan identitas tertentu akan lebih mudah mendekatkan hubungan antar individu dalam masyarakat.

Menguatnya relasi sosial masyarakat karena kesamaan identitas ini, sejatinya bukan menjadi pemicu konflik dan perpecahan antar masyarakat dari latar belakang identitas sosial yang berbeda. Penguatan identitas tidak akan menjadi penyokong utama konflik atau perpecahan, asal diikuti dengan saling menghargai dan memaklumi perbedaan di tengah realitas masyarakat yang majemuk.

Berbeda halnya bila identitas sosial dijadikan komoditas politik. Mengelaborasi atau bahkan mengeksploitasi identitas dalam kasus ini, niscaya ia akan menjelma sebagai api yang membakar, banjir yang akan menenggelamkan, topan yang
 memporak-poranda, atau pisau yang mengoyak-koyak kohesifitas sosial.

Politik identitas adalah barang lama yang hampir selalu dikemas sedemikian rupa pada momen Pemilu atau Pilkada. Targetnya, apalagi kalau bukan meraup suara sebanyak-banyaknya. Korbannya? Ya, kita kita juga. Masyarakat yang tidak tahu bertikai karena apa.

Dalam momen perhelatan politik, suksesi kepemimpinan daerah, seleksi jabatan politik, semata  menjadikan identitas segala-gala ukuran, jelas keliru besar. Memilih orang yang tepat untuk mengemban amanah, ia butuh pertimbangan yang matang.

Banyak kriteria lain yang lebih perlu dikedepankan. Biarlah identitas hanya sebagai referensi tambahan.

Jika perlu untuk sementara ia cukup disimpan. Setelahnya, biarlah ia terus tumbuh sebagai realitas sosial. Tak perlu pula ia dikaburkan, apalagi dihilangkan sama sekali. Membencinya sama saja dengan tak mengakui ibu kandung sendiri.

*gambar di atas, saya di depan rumah adat Suku Batin. Suku Batin merupakan suku yang cukup besar di Jambi, terutama di daerah Merangin, Bungo, Tebo, Sarolangun.
*Rumah adat ini dibuat Datuk H Hasan, Mantan Bupati Bungo Tebo. Bangunan ini ia dedikasikan untuk Suku Batin, dan turur memperkaya hasanah budaya Jambi.
*Saya berpose di depan rumah adat diarahkan fotografer dadakan yang namanya sementara dirahasiakan.
😀

#haripemilihansudahdekat
#pestademokrasisudahtiba
#pilihkepaladaerahberintegritas
#pilihpenyelenggaranegaraberkualitas
#pilihpenyelenggarapemiluberintegritas

Parbokalo Bungkan Yang Empat

Catatan Jhoni -

“Zaman orang tua dulu, secara tertulis tidak ada aturan untuk jaga hutan. Tapi hutan atau tanah ulayat itu dijaga oleh Depati, Ninek Mamak. Itu sudah menjadi aturan adat,”


Idrus Salim baru merebahkan badannya di atas pembaringan. Ia hendak beristirahat sehabis menunaikan shalat Isya. Baru sebentar, terdengar suara memanggilnya dari luar rumah. 

Rumah yang ditinggali Idrus dibangun dua tingkat, tapi hanya bagian bawah yang lebih banyak digunakan. Dia bersama istri, anak, menantu dan cucunya lebih memilih tinggal di lantai bawah. Idrus bersama istrinya mendiami kamar yang terletak di bagian belakang rumah.

Di lantai atas juga terdapat satu kamar yang ditempati cucu perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah menengah (SMP). Selain itu juga tersedia ruangan yang cukup luas, yang biasa dipakai oleh tamu yang ingin bermalam di rumahnya.

Idrus Salim segera keluar. Ntino Anang, istrinya, memberitahukan jika yang datang adalah fasilitator dari Perkumpulan Walestra.

Di luar, dua orang anak muda sudah berdiri di depan pintu utama sejak beberapa menit lalu. Tanpa menunggu lebih lama, keduanya langsung masuk disambut si penghuni rumah seperti anak yang baru pulang merantau. Keduanya terlibat obrolan hangat dengan Idrus Salim.
 
Idrus terlihat seakan sangat terbiasa berbincang-bincang dengan kedua anak muda di depannya. Suaranya yang be-tone berat semakin menambahkan kesan berwibawa pada sosoknya sebagai Ketua Adat Parbokalo Bungkan Yang Empat.

Puas bertanya kabar masing-masing, perbincangan mereka mulai menjurus ke soal hutan adat. 

“Zaman orang tua dulu, secara tertulis tidak ada aturan untuk jaga hutan. Tapi hutan atau tanah ulayat itu dijaga oleh Depati, Ninek Mamak. Itu sudah menjadi aturan adat,” kata Idrus Salim, menjawab pertanyaan dari salah seorang yang datang ke rumahnya malam itu.

Aturan adat Parbokalo Bungkan Yang Empat, kata Idrus, juga mengatur bagaimana cara menggarap lahan hutan, yang sudah masuk ke dalam tanah ulayat mereka.

“Sudah menjadi pemakaian adat, ada larang pantang dalam pengelolaan hutan. Yang dilarang banyak,” kata dia menjelaskan.

Aturan menanam jenis tanaman, juga diberitahukan ketika Orang Tua Adat memberikan ‘Ajun Arah’. Ajun Arah adalah semacam penentuan pemilihan lokasi berladang dan jenis tanaman yang harus ditanam di lahan yang sudah dipilih oleh tetua adat seperti Idrus Salim.

Di kerapatan adat yang dipimpin Idrus Salim, sampai saat ini aturan menanam pohon tetap ada dan dipatuhi, namun untuk pembukaan lahan baru tidak dilakukan lagi. Masing-masing orang akan mendapat bagian berdasarkan Kalbu dan Sukunya. 

Kerapatan Adat Parbokalo Bungkan Yang Empat Desa Talang Tinggi dan Mukai Tinggi terdiri dari empat suku. Empat suku tersebut, yakni Suku Rajo Indah, Suku Rajo Sulah, Suku Rajo Penghulu dan Suku Datuk. Selain itu, rumpun masyarakat adat ini juga terbagi menjadi enam Kalbu, yaitu 1) Kalbu Anak Jantan, 2) Kalbu Anak Batino Tuo, 3) Kalbu Anak Batino Mudo/Kampung Dalam, 4) Kalbu Rajo Penghulu, 5) Kalbu Rajo Sulah dan 6) Kalbu Datuk.

Parbokalo Bungkan Yang Empat bisa diartikan kata per kata sebagai purbalaka/zaman dahulu-suku-yang-empat. Defenisi ini berdasarkan penuturan Idrus Salim kepada tim Perkumpulan Walestra.

“Jadi asal usulnyo, Adat Parbokalo Bungkan Yang Empat memiliki empat suku dan enam kalbu itu,” kata Idrus Salim menjelaskan.
                                  **
Di tanah ulayat Parbokalo Bungkan Yang Empat, dulu di lahan yang agak datar memang dikelola menjadi ladang warga. Sementara beberapa lokasi memang sengaja dibiarkan. Wilayah itu, terutama di areal tanah yang memiliki kemiringan yang cukup curam, sampai kini tetap dipertahankan tegakan pohonnya, dan juga ditanami bambu.

“Pada umumnya di Kerinci ini, untuk menjago tanah agar tidak longsor, ditanam bambu. Itu diatur dalam adat,” ujar Idrus Salim. 

Bambu, selain untuk mencegah longsor, juga sebagai batas agar tidak sengketa. Selain itu untuk menandai daerah yang tidak boleh digarap.

“Kalau kayu manis, dipanen. Bambu kalau pun dipanen bisa cepat tumbuh lagi,” ujar Idrus, menjelaskan alasan pemilihan bambu sebagai tanaman pembantas di lahan-lahan warga. 

Lagi pula, kayu manis menjadi tanaman tua yang utama ditanam di setiap lahan. Kebiasaan ini sudah ada dan berlangsung sejak dulu. Leluhur mereka sudah meninggalkan kebiasan bertani yang sangat berguna untuk menopang perekonomian warga hingga saat ini. 

Memang diakuinya, tidak ada aturan adat yang tertulis mengatur hal itu, namun kebiasaan nenek moyang mereka sejak dulu, itu ada dan tetap dipegang hingga kini. “Nyo ginei,” kata Depati Intan Tengah Padang, Idrus Salim, dalam logat Kerinci yang kental. 

“Kopi diantar oleh Palawija, tanaman tua seperi kulit manis, surian, itu diantar oleh kopi. Kalau dak macam itu dak rutin orang menyiang.” Idrus Salim menjelaskan kebiasaan nenek moyang mereka dulu, sambil sesekali terlihat sedang berusaha mengingat-ingat. 
                                  **

Pandangan Idrus Salim terhenti pada kalender 2018, yang dari tadi dipegang dan diamati istrinya. Kalender itu memuat gambar petani di antara barisan tanaman kopi yang masih dipolybag. Kegiatan serupa pernah dilakukan Idrus sejak akhir 2016 lalu. Waktu itu, masyarakat membentuk kelompok pembibitan didampingi Konsorsium Perkumpulan Walestra.  

Kelompok-kelompok itu kemudian menyemai bibit di bawah naungan yang telah dibuat secara swadaya, dengan bantuan pendanaan dari ICCTF. Kayu manis, kopi dan surian dipilih sebagai tanaman yang disemai. Pemilihan tanaman ini sendiri merujuk kepada potensi lokal serta apa yang dilakukan dan menjadi kebiasaan warga setempat sejak lama.

Dua orang muda dari Walestra masih asyik mendengar kisah sang Depati. Laki-laki 60-an tahun yang juga dipanggil Nyantan Anang itu kembali meneruskan ceritanya. 

Soal pembibitan, ia paham betul bagaimana bersemangatnya kelompok yang mereka bentuk waktu itu, memasukkan pohon demi pohon bibit ke dalam plastik kecil berwarna hitam. Yang menarik dari metode dalam kegiatan pembibitan itu, masing-masing anggota kelompok hanya akan mendapatkan bibit tanaman sebanyak yang disemainya sendiri. 

Desember 2016 hingga Januari 2017 masyarakat membuat bibit. Bulan-bulan setelah itu, sampai Agustus, aktivitasnya adalah perawatan. Kayu Manis, Kopi dan Surian, dari lokasi pembibitan itu akan ditanam di ladang warga yang masuk dalam areal hutan adat yang tengah diusulkan untuk mendapatkan legalitas dari pemerintah. 

Sudah sekian bulan berlalu sejak berakhirnya kegiatan pembibitan. Sebanyak 120.000 bibit yang terdiri dari Kayu Manis, Kopi dan Surian, sudah dibagikan ke masing-masing  anggota kelompok. Sebagian sudah ditanam, sebagian lainnya masih menunggu musim. Namun Idrus Salim memastikan bahwa bibit yang mereka semai secara swadaya itu akan sangat berguna untuk memperbaiki kondisi tanah ulayat yang mereka gunakan untuk berladang.

“Kalu bibit, berapa pun di sini pasti habis. Banyak yang mau. Bahkan kalau jual, banyak yang mau beli,” kata Idrus, menjawab pertanyaan dari MusTa’em, Fasilitator Desa di Perkumpulan Walestra, soal sebagian bibit yang belum ditanam anggota kelompok.

Masyarakat di daerah itu memang membutuhkan banyak bibit kayu manis. Apalagi, harga komoditi ini semakin membaik. 

Idrus memperkuat pernyataannya dengan menyebut jenis tanaman Cassiavera ini sebagai tanaman pokok di daerahnya. Tanaman kebiasaan. Bahkan tanaman itu sangat bisa diandalkan untuk memenuhi pundi-pundi keuangan petani. Karena panennya setelah dalam jangka waktu yang lama, maka kayu manis juga dianggap sebagai tabungan keluarga.

“Ini rombongan kami, itu mau pergi umroh, itu 20 orang, dari desa ini,” ujar Idrus.

Menurut dia, petani bisa berangkat ke tanah suci, seperti itu, dari pendapatan menjual hasil panen kayu manis. 

“Nengok itu, dari keberhasilan seluruh penduduk di sini, orang sudah terpengaruh (untuk menanam kayu manis. pen). Kulit (kayu manis, pen) mahal. Kalo sekarang itu Rp 40.000,” ujar Nyantan Anang itu menyakinkan.

Contoh yang diberikan Idrus Salim, seolah ingin menegaskan, bahwa bibit yang mereka hasilkan dari kerja kelompok pembibitan tempo hari, tidak akan sia-sia.
                                      **

Mustaem melihat ke jam yang melingkar di tangannya. Jarum pendek menunjuk ke angka 10, jarum panjang tak dihiraukannya mengarah kemana. Dia lalu memberi isyarat dengan kode gerakan kepala seperti sedang bertanya kepada kawan di sebelahnya. 

Yang diberi kode segera paham. Segera saja mereka menyudahi pembicaraan dengan pemilik rumah. Keduanya lalu berpamitan pulang. 

Tawaran menginap susul menyusul datang dari Nyantan dan Ntino Anang. Tapi pekerjaan yang menumpuk, menjadi alasan yang tepat sehingga keduanya bisa berpamitan, tanpa menyinggung perasaan dua laki bini tersebut. 

Di luar titik-titik hujan kian jelas terlihat. Suara butiran air yang jatuh di atas atap rumah terdengar semakin besar. Tapi, pilihan untuk kembali ke dalam rumah bagi dua anak muda dari Walestra itu sudah tidak ada lagi. 

Berat rasanya untuk kembali masuk, setelah alasan pamungkas dilontarkan ke pemilik rumah agar mengizinkan mereka tetap pulang ke basecamp Walestra di Kota Sungai Penuh. Keduanya langsung menaiki motor lapangan yang terparkir tepat di depan rumah Idrus Salim. 

Motor dipacu menerobos hujan. Tanpa mantel, keduanya mantap melaju dengan posisi badan dicondongkan ke depan.
Sepanjang perjalanan pulang, sesekali terlihat kilat menyambar memperlihatkan siluet di balik bukit-bukit yang memagari Kota Sungai Penuh. Ta’em dan kawannya terlihat sesekali tertawa sambil menahan dingin yang semakin menusuk tulang. 

Entah apa yang mereka bicarakan.
Sepeda motor yang dikendarai Ta’em tetap melaju menerobos hujan. Kawannya yang membonceng seperti bersembunyi dibalik badan Ta’em yang tidak terlalu besar. Di kepala keduanya berkecamuk macam-macam pikiran. Sederet daftar pekerjaan masing-masing sudah menunggu untuk segera dituntaskan.
                                      ***

*Artikel di atas adalah salah satu artikel yg termuat dalam buku "Merajut Pengetahuan dan Pembelajaran bersama Masyarakat di Bentang Alam Kerinci Seblat : Catatan lapangan......"

Form

Makna dan Arti

Catatan Jhoni - ‌Dua orang berpakaian merah putih tampak tengah melayani pelanggannya yang mengantre di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU/ Pom bensin) di salah satu titik di Provinsi Jambi, pukul 09.40 WIB pagi. Meski masih pagi, satu orang terlihat kurang bersemangat memasukkan moncong nozzle ke mulut tangki kendaraan yang berhenti di depannya. Untuk pekerjaan yang didapatnya dengan gaji yang sama dengan kawannya, ia sepertinya kurang menjiwai alih-alih mensyukuri pekerjaannya ini. ‌

Kawan di sebelahnya, dengan profesi dan tugas yang sama, tampak cekatan dan melayani dengan senyum ramah dan wajah berseri. Ini yang namanya berdedikasi. ‌

Tidak jauh dari lokasi kedua orang tadi, seorang pria paruh baya tidak mengenakan seragam serupa, juga tampak melayani pengisian bensin sambil bercakap-cakap dengan pelanggan. Ia melakoni pekerjaan itu setelah ditinggal seorang petugas pengisian, yang buru-buru ke kamar kecil. Si pria paruh baya segera mengisi setelah diminta petugas pengisian dan pelanggan yang telah lama mengantre. Inilah yang namanya peduli. ‌

Setelah sang petugas datang, sejumlah uang yang dibayarkan pelanggan ia keluarkan dari laci yang dibuat khusus, lalu diserahkannya semua. Inilah yang namanya tanpa pamrih. ‌

Si pria kemudian kembali duduk di samping bundelan aneka jajanan yang dibungkus plastik. Baru sebentar, seorang laki-laki mendatanginya menyodorkan uang dua puluh ribu, dan langsung memilih tahu dan tempe goreng. Tak berapa lama, seorang ibu juga mengeluarkan besaran uang yang sama dan mengambil sejumlah telur puyuh rebus dan kacang goreng. Inilah yang namanya rejeki. ‌

Seorang laki-laki yang mengendarai pelan kendaraannya mengamati kegiatan beberapa orang tadi, sambil meresap makna dan menyimpulkan pelajaran yang baginya sangat berarti. Itulah yang bernama Jhoni. ‌😀

Maaf pemirsah, di atas bukan foto di POM bensin yang dimaksud tadi, ini hanya ilustrasi. Karena itulah yang namanya petromini.. 😀😂
#catatanjhoni ‌


Sajak di Ujung Malam

Oleh: Jhoni Imron

Pada malam, bisu
Pena penyair lincah menari
Melukis segurat rasa
Menuliskan bait suci
Merajut kalimat mantra sakti
Meramu doa puja-puji

Tengah malam, kelu
Anak-anak kemiskinan mulai menghentikan langkah gontainya
Menggamit sang malam dengan keluh kesah yang sama
Meniduri tikar-tikar kardus dan alas dari perca

Ujung malam, itu
Langit dalam wajah tuanya tetap berkabut
Debu-debu berjejalan gelantungan di ujung embun
Asap-asap pabrik masih pongah membelah mega
Melukiskan segurat rasa
Menuliskan warna mendung
Merajut awan pekat
Meramu peluh dan bau keringat

Lewat malam, beku
Tetamu malam masih asyik menari-nari
Ribuan kunang-kunang menyibak malam merangkai cahaya

Lalu,
Subuh mulai memanggil lewat pengeras suara
Malam beku kini berganti.


Inspirasi dan Informasi Lainnya

Kata Mutiara

Kata Mutiara
Menulis adalah kodrat yang tak boleh pupus oleh alasan apa pun. Karena bersama itu, kita akan menyadari arti pentingnya belajar, membaca, dan berbagi.
Back To Top