Catatan Jhoni

Catatan Jhoni

Inspirasi dan Informasi

Catatan Jhoni

"Ditulis dengan Hati dan Hati-hati"
Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin Path Gmail

Identitas dan Politik Identitas

Catatan Jhoni - Tidak ada yang salah dengan menguatnya (penguatan) identitas individu dan sosial. Setidaknya ia menjadi   tempat berkaca soal asal-usul kita. Bisa menjadi jembatan sejarah atau sekedar nostalgia. Bisa pula sebagai panduan bersikap dan bertindak.

Identitas sosial (dalam hal ini ambil saja misalnya, suku, agama, ras atau kedaerahan) ia menjadi perekat bagi individu-individu, anggota komunitas/masyarakat dalam satu kesamaan identitas tersebut. Terlebih saat berada di suatu tempat yang jauh dan asing. Kesamaan identitas tertentu akan lebih mudah mendekatkan hubungan antar individu dalam masyarakat.

Menguatnya relasi sosial masyarakat karena kesamaan identitas ini, sejatinya bukan menjadi pemicu konflik dan perpecahan antar masyarakat dari latar belakang identitas sosial yang berbeda. Penguatan identitas tidak akan menjadi penyokong utama konflik atau perpecahan, asal diikuti dengan saling menghargai dan memaklumi perbedaan di tengah realitas masyarakat yang majemuk.

Berbeda halnya bila identitas sosial dijadikan komoditas politik. Mengelaborasi atau bahkan mengeksploitasi identitas dalam kasus ini, niscaya ia akan menjelma sebagai api yang membakar, banjir yang akan menenggelamkan, topan yang
 memporak-poranda, atau pisau yang mengoyak-koyak kohesifitas sosial.

Politik identitas adalah barang lama yang hampir selalu dikemas sedemikian rupa pada momen Pemilu atau Pilkada. Targetnya, apalagi kalau bukan meraup suara sebanyak-banyaknya. Korbannya? Ya, kita kita juga. Masyarakat yang tidak tahu bertikai karena apa.

Dalam momen perhelatan politik, suksesi kepemimpinan daerah, seleksi jabatan politik, semata  menjadikan identitas segala-gala ukuran, jelas keliru besar. Memilih orang yang tepat untuk mengemban amanah, ia butuh pertimbangan yang matang.

Banyak kriteria lain yang lebih perlu dikedepankan. Biarlah identitas hanya sebagai referensi tambahan.

Jika perlu untuk sementara ia cukup disimpan. Setelahnya, biarlah ia terus tumbuh sebagai realitas sosial. Tak perlu pula ia dikaburkan, apalagi dihilangkan sama sekali. Membencinya sama saja dengan tak mengakui ibu kandung sendiri.

*gambar di atas, saya di depan rumah adat Suku Batin. Suku Batin merupakan suku yang cukup besar di Jambi, terutama di daerah Merangin, Bungo, Tebo, Sarolangun.
*Rumah adat ini dibuat Datuk H Hasan, Mantan Bupati Bungo Tebo. Bangunan ini ia dedikasikan untuk Suku Batin, dan turur memperkaya hasanah budaya Jambi.
*Saya berpose di depan rumah adat diarahkan fotografer dadakan yang namanya sementara dirahasiakan.
😀

#haripemilihansudahdekat
#pestademokrasisudahtiba
#pilihkepaladaerahberintegritas
#pilihpenyelenggaranegaraberkualitas
#pilihpenyelenggarapemiluberintegritas

Parbokalo Bungkan Yang Empat

Catatan Jhoni -

“Zaman orang tua dulu, secara tertulis tidak ada aturan untuk jaga hutan. Tapi hutan atau tanah ulayat itu dijaga oleh Depati, Ninek Mamak. Itu sudah menjadi aturan adat,”


Idrus Salim baru merebahkan badannya di atas pembaringan. Ia hendak beristirahat sehabis menunaikan shalat Isya. Baru sebentar, terdengar suara memanggilnya dari luar rumah. 

Rumah yang ditinggali Idrus dibangun dua tingkat, tapi hanya bagian bawah yang lebih banyak digunakan. Dia bersama istri, anak, menantu dan cucunya lebih memilih tinggal di lantai bawah. Idrus bersama istrinya mendiami kamar yang terletak di bagian belakang rumah.

Di lantai atas juga terdapat satu kamar yang ditempati cucu perempuannya yang masih duduk di bangku sekolah menengah (SMP). Selain itu juga tersedia ruangan yang cukup luas, yang biasa dipakai oleh tamu yang ingin bermalam di rumahnya.

Idrus Salim segera keluar. Ntino Anang, istrinya, memberitahukan jika yang datang adalah fasilitator dari Perkumpulan Walestra.

Di luar, dua orang anak muda sudah berdiri di depan pintu utama sejak beberapa menit lalu. Tanpa menunggu lebih lama, keduanya langsung masuk disambut si penghuni rumah seperti anak yang baru pulang merantau. Keduanya terlibat obrolan hangat dengan Idrus Salim.
 
Idrus terlihat seakan sangat terbiasa berbincang-bincang dengan kedua anak muda di depannya. Suaranya yang be-tone berat semakin menambahkan kesan berwibawa pada sosoknya sebagai Ketua Adat Parbokalo Bungkan Yang Empat.

Puas bertanya kabar masing-masing, perbincangan mereka mulai menjurus ke soal hutan adat. 

“Zaman orang tua dulu, secara tertulis tidak ada aturan untuk jaga hutan. Tapi hutan atau tanah ulayat itu dijaga oleh Depati, Ninek Mamak. Itu sudah menjadi aturan adat,” kata Idrus Salim, menjawab pertanyaan dari salah seorang yang datang ke rumahnya malam itu.

Aturan adat Parbokalo Bungkan Yang Empat, kata Idrus, juga mengatur bagaimana cara menggarap lahan hutan, yang sudah masuk ke dalam tanah ulayat mereka.

“Sudah menjadi pemakaian adat, ada larang pantang dalam pengelolaan hutan. Yang dilarang banyak,” kata dia menjelaskan.

Aturan menanam jenis tanaman, juga diberitahukan ketika Orang Tua Adat memberikan ‘Ajun Arah’. Ajun Arah adalah semacam penentuan pemilihan lokasi berladang dan jenis tanaman yang harus ditanam di lahan yang sudah dipilih oleh tetua adat seperti Idrus Salim.

Di kerapatan adat yang dipimpin Idrus Salim, sampai saat ini aturan menanam pohon tetap ada dan dipatuhi, namun untuk pembukaan lahan baru tidak dilakukan lagi. Masing-masing orang akan mendapat bagian berdasarkan Kalbu dan Sukunya. 

Kerapatan Adat Parbokalo Bungkan Yang Empat Desa Talang Tinggi dan Mukai Tinggi terdiri dari empat suku. Empat suku tersebut, yakni Suku Rajo Indah, Suku Rajo Sulah, Suku Rajo Penghulu dan Suku Datuk. Selain itu, rumpun masyarakat adat ini juga terbagi menjadi enam Kalbu, yaitu 1) Kalbu Anak Jantan, 2) Kalbu Anak Batino Tuo, 3) Kalbu Anak Batino Mudo/Kampung Dalam, 4) Kalbu Rajo Penghulu, 5) Kalbu Rajo Sulah dan 6) Kalbu Datuk.

Parbokalo Bungkan Yang Empat bisa diartikan kata per kata sebagai purbalaka/zaman dahulu-suku-yang-empat. Defenisi ini berdasarkan penuturan Idrus Salim kepada tim Perkumpulan Walestra.

“Jadi asal usulnyo, Adat Parbokalo Bungkan Yang Empat memiliki empat suku dan enam kalbu itu,” kata Idrus Salim menjelaskan.
                                  **
Di tanah ulayat Parbokalo Bungkan Yang Empat, dulu di lahan yang agak datar memang dikelola menjadi ladang warga. Sementara beberapa lokasi memang sengaja dibiarkan. Wilayah itu, terutama di areal tanah yang memiliki kemiringan yang cukup curam, sampai kini tetap dipertahankan tegakan pohonnya, dan juga ditanami bambu.

“Pada umumnya di Kerinci ini, untuk menjago tanah agar tidak longsor, ditanam bambu. Itu diatur dalam adat,” ujar Idrus Salim. 

Bambu, selain untuk mencegah longsor, juga sebagai batas agar tidak sengketa. Selain itu untuk menandai daerah yang tidak boleh digarap.

“Kalau kayu manis, dipanen. Bambu kalau pun dipanen bisa cepat tumbuh lagi,” ujar Idrus, menjelaskan alasan pemilihan bambu sebagai tanaman pembantas di lahan-lahan warga. 

Lagi pula, kayu manis menjadi tanaman tua yang utama ditanam di setiap lahan. Kebiasaan ini sudah ada dan berlangsung sejak dulu. Leluhur mereka sudah meninggalkan kebiasan bertani yang sangat berguna untuk menopang perekonomian warga hingga saat ini. 

Memang diakuinya, tidak ada aturan adat yang tertulis mengatur hal itu, namun kebiasaan nenek moyang mereka sejak dulu, itu ada dan tetap dipegang hingga kini. “Nyo ginei,” kata Depati Intan Tengah Padang, Idrus Salim, dalam logat Kerinci yang kental. 

“Kopi diantar oleh Palawija, tanaman tua seperi kulit manis, surian, itu diantar oleh kopi. Kalau dak macam itu dak rutin orang menyiang.” Idrus Salim menjelaskan kebiasaan nenek moyang mereka dulu, sambil sesekali terlihat sedang berusaha mengingat-ingat. 
                                  **

Pandangan Idrus Salim terhenti pada kalender 2018, yang dari tadi dipegang dan diamati istrinya. Kalender itu memuat gambar petani di antara barisan tanaman kopi yang masih dipolybag. Kegiatan serupa pernah dilakukan Idrus sejak akhir 2016 lalu. Waktu itu, masyarakat membentuk kelompok pembibitan didampingi Konsorsium Perkumpulan Walestra.  

Kelompok-kelompok itu kemudian menyemai bibit di bawah naungan yang telah dibuat secara swadaya, dengan bantuan pendanaan dari ICCTF. Kayu manis, kopi dan surian dipilih sebagai tanaman yang disemai. Pemilihan tanaman ini sendiri merujuk kepada potensi lokal serta apa yang dilakukan dan menjadi kebiasaan warga setempat sejak lama.

Dua orang muda dari Walestra masih asyik mendengar kisah sang Depati. Laki-laki 60-an tahun yang juga dipanggil Nyantan Anang itu kembali meneruskan ceritanya. 

Soal pembibitan, ia paham betul bagaimana bersemangatnya kelompok yang mereka bentuk waktu itu, memasukkan pohon demi pohon bibit ke dalam plastik kecil berwarna hitam. Yang menarik dari metode dalam kegiatan pembibitan itu, masing-masing anggota kelompok hanya akan mendapatkan bibit tanaman sebanyak yang disemainya sendiri. 

Desember 2016 hingga Januari 2017 masyarakat membuat bibit. Bulan-bulan setelah itu, sampai Agustus, aktivitasnya adalah perawatan. Kayu Manis, Kopi dan Surian, dari lokasi pembibitan itu akan ditanam di ladang warga yang masuk dalam areal hutan adat yang tengah diusulkan untuk mendapatkan legalitas dari pemerintah. 

Sudah sekian bulan berlalu sejak berakhirnya kegiatan pembibitan. Sebanyak 120.000 bibit yang terdiri dari Kayu Manis, Kopi dan Surian, sudah dibagikan ke masing-masing  anggota kelompok. Sebagian sudah ditanam, sebagian lainnya masih menunggu musim. Namun Idrus Salim memastikan bahwa bibit yang mereka semai secara swadaya itu akan sangat berguna untuk memperbaiki kondisi tanah ulayat yang mereka gunakan untuk berladang.

“Kalu bibit, berapa pun di sini pasti habis. Banyak yang mau. Bahkan kalau jual, banyak yang mau beli,” kata Idrus, menjawab pertanyaan dari MusTa’em, Fasilitator Desa di Perkumpulan Walestra, soal sebagian bibit yang belum ditanam anggota kelompok.

Masyarakat di daerah itu memang membutuhkan banyak bibit kayu manis. Apalagi, harga komoditi ini semakin membaik. 

Idrus memperkuat pernyataannya dengan menyebut jenis tanaman Cassiavera ini sebagai tanaman pokok di daerahnya. Tanaman kebiasaan. Bahkan tanaman itu sangat bisa diandalkan untuk memenuhi pundi-pundi keuangan petani. Karena panennya setelah dalam jangka waktu yang lama, maka kayu manis juga dianggap sebagai tabungan keluarga.

“Ini rombongan kami, itu mau pergi umroh, itu 20 orang, dari desa ini,” ujar Idrus.

Menurut dia, petani bisa berangkat ke tanah suci, seperti itu, dari pendapatan menjual hasil panen kayu manis. 

“Nengok itu, dari keberhasilan seluruh penduduk di sini, orang sudah terpengaruh (untuk menanam kayu manis. pen). Kulit (kayu manis, pen) mahal. Kalo sekarang itu Rp 40.000,” ujar Nyantan Anang itu menyakinkan.

Contoh yang diberikan Idrus Salim, seolah ingin menegaskan, bahwa bibit yang mereka hasilkan dari kerja kelompok pembibitan tempo hari, tidak akan sia-sia.
                                      **

Mustaem melihat ke jam yang melingkar di tangannya. Jarum pendek menunjuk ke angka 10, jarum panjang tak dihiraukannya mengarah kemana. Dia lalu memberi isyarat dengan kode gerakan kepala seperti sedang bertanya kepada kawan di sebelahnya. 

Yang diberi kode segera paham. Segera saja mereka menyudahi pembicaraan dengan pemilik rumah. Keduanya lalu berpamitan pulang. 

Tawaran menginap susul menyusul datang dari Nyantan dan Ntino Anang. Tapi pekerjaan yang menumpuk, menjadi alasan yang tepat sehingga keduanya bisa berpamitan, tanpa menyinggung perasaan dua laki bini tersebut. 

Di luar titik-titik hujan kian jelas terlihat. Suara butiran air yang jatuh di atas atap rumah terdengar semakin besar. Tapi, pilihan untuk kembali ke dalam rumah bagi dua anak muda dari Walestra itu sudah tidak ada lagi. 

Berat rasanya untuk kembali masuk, setelah alasan pamungkas dilontarkan ke pemilik rumah agar mengizinkan mereka tetap pulang ke basecamp Walestra di Kota Sungai Penuh. Keduanya langsung menaiki motor lapangan yang terparkir tepat di depan rumah Idrus Salim. 

Motor dipacu menerobos hujan. Tanpa mantel, keduanya mantap melaju dengan posisi badan dicondongkan ke depan.
Sepanjang perjalanan pulang, sesekali terlihat kilat menyambar memperlihatkan siluet di balik bukit-bukit yang memagari Kota Sungai Penuh. Ta’em dan kawannya terlihat sesekali tertawa sambil menahan dingin yang semakin menusuk tulang. 

Entah apa yang mereka bicarakan.
Sepeda motor yang dikendarai Ta’em tetap melaju menerobos hujan. Kawannya yang membonceng seperti bersembunyi dibalik badan Ta’em yang tidak terlalu besar. Di kepala keduanya berkecamuk macam-macam pikiran. Sederet daftar pekerjaan masing-masing sudah menunggu untuk segera dituntaskan.
                                      ***

*Artikel di atas adalah salah satu artikel yg termuat dalam buku "Merajut Pengetahuan dan Pembelajaran bersama Masyarakat di Bentang Alam Kerinci Seblat : Catatan lapangan......"

Form

Makna dan Arti

Catatan Jhoni - ‌Dua orang berpakaian merah putih tampak tengah melayani pelanggannya yang mengantre di stasiun pengisian bahan bakar (SPBU/ Pom bensin) di salah satu titik di Provinsi Jambi, pukul 09.40 WIB pagi. Meski masih pagi, satu orang terlihat kurang bersemangat memasukkan moncong nozzle ke mulut tangki kendaraan yang berhenti di depannya. Untuk pekerjaan yang didapatnya dengan gaji yang sama dengan kawannya, ia sepertinya kurang menjiwai alih-alih mensyukuri pekerjaannya ini. ‌

Kawan di sebelahnya, dengan profesi dan tugas yang sama, tampak cekatan dan melayani dengan senyum ramah dan wajah berseri. Ini yang namanya berdedikasi. ‌

Tidak jauh dari lokasi kedua orang tadi, seorang pria paruh baya tidak mengenakan seragam serupa, juga tampak melayani pengisian bensin sambil bercakap-cakap dengan pelanggan. Ia melakoni pekerjaan itu setelah ditinggal seorang petugas pengisian, yang buru-buru ke kamar kecil. Si pria paruh baya segera mengisi setelah diminta petugas pengisian dan pelanggan yang telah lama mengantre. Inilah yang namanya peduli. ‌

Setelah sang petugas datang, sejumlah uang yang dibayarkan pelanggan ia keluarkan dari laci yang dibuat khusus, lalu diserahkannya semua. Inilah yang namanya tanpa pamrih. ‌

Si pria kemudian kembali duduk di samping bundelan aneka jajanan yang dibungkus plastik. Baru sebentar, seorang laki-laki mendatanginya menyodorkan uang dua puluh ribu, dan langsung memilih tahu dan tempe goreng. Tak berapa lama, seorang ibu juga mengeluarkan besaran uang yang sama dan mengambil sejumlah telur puyuh rebus dan kacang goreng. Inilah yang namanya rejeki. ‌

Seorang laki-laki yang mengendarai pelan kendaraannya mengamati kegiatan beberapa orang tadi, sambil meresap makna dan menyimpulkan pelajaran yang baginya sangat berarti. Itulah yang bernama Jhoni. ‌😀

Maaf pemirsah, di atas bukan foto di POM bensin yang dimaksud tadi, ini hanya ilustrasi. Karena itulah yang namanya petromini.. 😀😂
#catatanjhoni ‌


Sajak di Ujung Malam

Oleh: Jhoni Imron

Pada malam, bisu
Pena penyair lincah menari
Melukis segurat rasa
Menuliskan bait suci
Merajut kalimat mantra sakti
Meramu doa puja-puji

Tengah malam, kelu
Anak-anak kemiskinan mulai menghentikan langkah gontainya
Menggamit sang malam dengan keluh kesah yang sama
Meniduri tikar-tikar kardus dan alas dari perca

Ujung malam, itu
Langit dalam wajah tuanya tetap berkabut
Debu-debu berjejalan gelantungan di ujung embun
Asap-asap pabrik masih pongah membelah mega
Melukiskan segurat rasa
Menuliskan warna mendung
Merajut awan pekat
Meramu peluh dan bau keringat

Lewat malam, beku
Tetamu malam masih asyik menari-nari
Ribuan kunang-kunang menyibak malam merangkai cahaya

Lalu,
Subuh mulai memanggil lewat pengeras suara
Malam beku kini berganti.


PETI untuk (Menjemput) Mati

http://kajanglako.com/id-2383-post--peti-kembali-makan-korban-dua-orang-tewas-tertimbun-tanah.html
Catatan Jhoni - Seperti itulah PETI, pada akhirnya ia hanya dipersiapkan untuk (menjemput) mati. Meski dihiasi dengan mimpi gelimang rupiah, yang melenakan pelaku PETI. Pelaku, baik pemodal, pelaksana, maupun pemodal sekaligus pelaksana di lapangan bisa terus terbuai keasyikan mengeruk sumber daya alam tanpa tuan tersebut, dengan mengesampingkan akibat buruk dari aktivitas yang dilakukannya.

PETI atau Penambangan Emas Tanpa Izin memang marak terjadi di hampir semua kabupaten di (wilayah barat) Provinsi Jambi, beberapa tahun terakhir. Bahkan aktivitas ini sudah tergolong ‘gila-gilaan’ dilakukan. PETI tak hanya mencemari sungai, aktivitas ilegal tersebut juga merusak badan dan sempadan sungai serta jalur aliran air.

Setelah itu apa lagi? PETI juga merangsek ke wilayah hutan hingga masuk ke kawasan taman nasional.

“Dari analisis yang dilakukan, pengerukan tambang ilegal sudah masuk ke dalam kawasan lindung, yaitu kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di wilayah Merangin dan Hutan Lindung Bukit Limau di Sarolangun,” kata Rudi Syaf, Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI.

Secara langsung PETI turut menyumbang laju deforestasi. Publikasi catatan akhir tahun 2017 KKI WARSI, di Kantor pusatnya di kawasan Pematang Sulur Kota Jambi, beberapa waktu lalu, menyebut luasan hutan di Provinsi Jambi sudah masuk kategori Darurat. “Laju deforestasi makin tak terbendung”.

Dari analisis Citra Satelit yang dilakukan Tim GIS KKI WARSI, tutupan hutan di Provinsi Jambi pada 2017 tinggal 930 ribu hektar, atau hanya 18 persen dari luas  daratan Jambi. Berkurangnya luas tutupan hutan disebutkan salah satunya karena maraknya aktivitas tambang ilegal (PETI).

“Kehilangan hutan dipicu sejumlah aktivitas manusia, di antaranya alih fungsi hutan, tambang illegal dan perambahan liar,” kata Rudi Syaf, Direktur KKI WARSI.

Dalam catatan WARSI, PETI paling banyak terjadi di Kabupaten Merangin, Sarolangun dan Bungo. Interprestasi Citra Lansat 8 tahun 2017, seluas 27.822 hektar lahan alami kerusakan akibat penambangan emas ilegal. Dari jumlah itu, di Sarolangun adalah yang paling luas, yaitu 13.762 hektar. Disusul kemudian Merangin seluas 9.966 hektar dan Bungo 4.094 hektar.

Jika dibandingkan dengan analisis tahun 2016, areal yang dibuka untuk penambangan ilegal meningkat lebih dari 100 persen di wilayah  Merangin dan Sarolangun. Areal tambang ilegal ini diperkirakan separuhnya merupakan kawasan persawahan yang sebelumnya menjadi sumber pangan masyarakat setempat.

PETI yang Merusak dan Memakan Banyak Korban
Aktivitas PETI yang dilakukan di sepanjang sungai, menyebabkan alur sungai menjadi lebih luas dan terdapat bekas galian terbuka yang menjadi lahan kritis. Akibatnya, bencana ekologis, konflik, tak bisa dihindarkan. Ditambah lagi alih fungsi lahan dan hutan serta pembalakan liar yang masih terus terjadi. Banjir dan longsor makin sering datang dan menjadi ancaman yang tak bisa dielakkan.

Menurut catatan KKI WARSI, ribuan warga menjadi korban dari bencana ekologis yang terjadi di Provinsi Jambi. Bahkan, 7 orang di antaranya kehilangan nyawa, selebihnya mengungsi. Ribuan rumah terendam, ribuan hektar sawah serta fasilitas umum seperti sekolah, mushala dan pusat kesehatan juga ikut terdampak.

“Selain banjir di Jambi juga ditemukan sejumlah kasus longsor, hujan deras disertai angin kencang dan petir. Sejumlah pohon di pusat permukiman bertumbangan,” ujar Rudi Syaf.

Dampak lain dari aktivitas PETI sangat meresahkan masyarakat di sepanjang aliran sungai. Dalam catatan akhir tahun 2017 KKI WARSI, air yang mengalir di sungai-sungai yang melewati pemukiman warga di Provinsi Jambi masih merupakan sumber utama kebutuhan masyarakat. Mereka memanfaatkan air sungai untuk berbagai keperluan sehari-hari, seperti untuk mandi, minum dan keperluan lainnya.

PETI yang menggunakan merkuri untuk pemisah biji emas disinyalir telah mencemari air sungai yang sehari-harinya digunakan warga. Di beberapa tempat, PETI menjadi penyebab ratusan hektar sawah tak bisa ditanami, lebih seratus lubuk larangan terancam.

Bukan hanya merusak lingkungan, aktivitas PETI juga sudah banyak memakan korban jiwa. Terhitung mulai tahun 2012 hingga akhir 2017, sedikitnya 62 korban meninggal dunia akibat aktivitas PETI. Tragedi meninggal pelaku PETI hampir selalu dalam keadaan mengenaskan. Peristiwa longsornya lubang jarum PETI yang memakan banyak korban akibat tertimbun material, di Merangin. Lalu ada banyak lagi kejadian lainnya yang merenggut nyawa pelaku maupun korban terdampak aktivitas PETI.

“Ironisnya, makin banyak korban yang meninggal dunia akibat PETI, justru membuat luasan lahan PETI makin luas, belum ada peranan konkrit pemerintah dalam melakukan pencegahan,” kata Rudi Syaf, Direktur KKI WARSI. (*)

Dari Penulis

Catatan Jhoni - Waktu kecil, saya sering mendengar cerita atau lebih tepatnya dongeng yang temanya bersinggungan dengan hutan. Misalnya cerita hantu pirau, yang tinggal di dalam hutan. Cerita “Datuk”—harimau yang dianggap sebagai reinkarnasi roh nenek moyang—yang menjaga hutan. Lalu ada cerita yang menakutkan, tentang hantu-hantu yang melarikan anak-anak nakal sampai
jauh masuk ke hutan.

Pesannya jelas memberikan rasa takut. Takut akan hutan. Hutan ada yang jaga. Dibawa jauh ke dalam hutan adalah hukuman untuk anak yang nakal. Pesan lainnya: jangan sembarangan merusak hutan. Jangankan merusak, masuk pun harus hati-hati. Minta izin. Dan sebagainya. Demikian nilai yang diturunkan nenek moyang dahulu.

Semakin beranjak besar, ketakutan akan hutan tersebab mendengar cerita- cerita dan dongeng yang menyeramkan kemudian berubah jadi ketakjuban. Takjub melihat hutan masih asri dan hijau.

Ketika masih usia SMP, saya sering menghabiskan waktu sendiri, memanjat pepohonan tinggi, memandang jauh ke dalam hutan yang masih tersisa nun di huluan Jambi. Pesan “takutlah terhadap hutan” berubah “pedulilah terhadap hutan”.

Sekian tahun berlalu, Dongeng-dongeng tentang hutan sudah tidak ada lagi terdengar. Kini hutan bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Bahkan terkesan ia tidak perlu dijaga, karena di dalamnya banyak sumber daya yang harus segera disulap jadi rupiah. Hutan yang dulu lebat, tahun-tahun terakhir mulai terlihat jarang. Yang dulu hijau, kini gersang. Yang dulu luas, kini semakin sempit. Dulu dan sekarang memang amat jauh berbeda.

Saya sangat bersyukur mendapat tawaran menulis buku dari Perkumpulan Walestra tentang upaya masyarakat di beberapa desa yang masih menjaga hutan tersisa. Mereka membentuk kelompok penjagaan dan mengusulkan skema perhutanan sosial (hutan adat dan hutan nagari).

Bukan apa-apa. Semangat mereka menjaga tutupan hutan di daerahnya merupakan virus yang harus disebarluaskan. Salah satunya dengan cara mencatat dan membukukannya seperti ini.

Meski diminta Walestra, dalam buku ini saya berusaha menulis seobjektif mungkin, sesuai dengan data dan fakta. Untuk menggali informasinya saya melakukan riset kecil dengan suplai data yang sudah berlimpah dari tim lapangan Perkumpulan Walestra.

Selain informasi awal dan sumber sekunder, saya juga langsung turun ke lapangan. Saya bertemu dan bermalam di rumah warga, hanya untuk menyelami secara langsung seperti apa sebenarnya semangat menjaga hutan di tingkat masyarakat. Bagaimana pula liku-liku yang mereka hadapi dalam perjalanan mempertahankan hutan tersebut.

Tentu bantuan tim Perkumpulan Walestra sangat dominan dalam kegiatan penulisan buku ini. Bantuan mulai dari Direktur Walestra hingga staf lapangan di desa dampingan mereka, boleh dibilang paling berperan selama pengerjaan hingga penerbitannya. Tidak kalah pentingnya, saya juga ingin haturkan terima kasih atas bantuan dari orang-orang desa yang saya kunjungi, kawan berdiskusi, dan orang-orang yang sudi nama dan ceritanya dimasukkan dalam buku ini.

Semoga buku ini bermanfaat dan bisa menyebarkan semangat menjaga alam dan hutan, sebagaimana yang diperjuangkan kawan-kawan di Walestra.

Terima Kasih
@jhoni_imron

Inspirasi dan Informasi Lainnya

Kata Mutiara

Kata Mutiara
Menulis adalah kodrat yang tak boleh pupus oleh alasan apa pun. Karena bersama itu, kita akan menyadari arti pentingnya belajar, membaca, dan berbagi.
Back To Top