00.00 (nol nol, nol nol)



Itu angka jam digital yang muncul di layar smartphone Imron, ketika dia masih mengumpulkan rasa kantuk yang belum sudi mampir di mata lelahnya. 

Lelaki itu, sebagaimana banyak kaum bapak-bapak di negeri ini, tengah menjalankan peran cerewet ibu kos-kosan pada anak kosnya.

Hanya saja cerewet yang ia lakonkan kali ini, kapasitas dan kualitasnya beda. 

Ia mangkel. Hatinya tak terima dengan serangkaian kebijakan pemerintah dalam penanganan wabah. 

Ia dongkol. Jiwanya berontak menyaksikan rakyat seperti dibiarkan berjuang sendirian dan negara tampak kurang berperan membantu banyak rakyat yang lagi kesusahan.

Imron jengkel. Mengapa orang-orang yang dia pilih pada helatan 5 tahunan beberapa waktu lalu itu, tidak ada yang muncul dan berbuat banyak dengan kewenangannya untuk membantu warga negara ini melewati saat-saat krisis melanda.

Sekuat tenaga Imron pejamkan mata, sekuat itu pula indra penglihatannya itu membuka dua kelopaknya.

Hingga akhirnya dia menyerah. 

Lalu, ponsel pintarnya ia buka. 

Imron berselancar di internet. Tapi informasi yang muncul dan berseliweran makin membuat dia enek.

Pemerintah larang mudik; Pemerintah datangkan TKA; Pemerintah tetap buka penerbangan internasional; Pemerintah buka kembali penerbangan; Antrian mengular di bandara; Pemerintah minta terap jaga jarak; Puncak penyebaran Covid-19 mundur; Jumlah Positif Covid-19 bertambah.

Demikian kira-kira Headline beberapa media yang memenuhi ruang publik. 

Sampai di situ, Imron termangu.

Informasi itu tadi dengan cepat direspon dengan kritik massa.

Rakyat kemudian tak segan menumpahkan sisi-isi negatifnya di dunia maya. 

Sumpah serapah, caci maki, umpat cela. Orang-orang betul- betul sudah kehilangan kesabaran. 

Pandemi ini telah membuat rakyat makin nyaring bersuara dan menegaskan hak koreksinya atas negara. Wabah ini membuat warga negara makin PD (pede) dan berani buka suara.

Di sisi lain, masa-masa sulit ini membuka terang benderang sifat asli kekuasaan. 

Apakah ia ada untuk melayani atau malah sebaliknya. Ia peduli, atau hanya mengutamakan kepentingannya sendiri.

Imron bergumam.. 

"Keadaan genting sebenarnya sedang memastikan apakah kehadiran negara itu penting. Seberapa terasa peran negara, sepenting itulah keberadaannya."

Ia tak habis pikir. Saat orang-orang sudah mematuhi anjuran pemerintah untuk jaga jarak, stay at home, tetap di rumah, Kebijakan yang diambil malah membuat rakyat bingung.

Belum lagi soal beban ekonomi yang banyak sekali orang terdampak. Tempo hari ada kebijakan, yang belakangan cuma nambah persoalan.

Kebijakan penangguhan utang yang setengah hati dilakukan. Pemberlakuan iuran dan beban bayar yang masuk ke kas negara yang justru naik atau dinaikkan.

Kebijakan-kebijakan pemerintah pada akhirnya betul-betul telah menyatukan rakyat, bahwa dalam bernegara kita semua sama.
Lu cebong, lu kampret, di hadapan negara, kalian cuma objek.

Jadi, bijaklah. Belajarlah, Imron. 

Sekarang tidurlah. 

Jangan terlalu mengharap peran negara atas masa depan dan hidup kita.

Lihat orang-orang terdekat, buat lingkaran yang saling menguatkan. Saling bantu antar tetangga. Itu jauh lebih menenangkan.

Negara sudah lama bolos kerja. Nggak usah terlalu dipusingkan, apalagi mau pertanyakan soal gaji dan tunjangan pengurusnya. Cumam bikin naik darah dan tambah dosa.

Makanya, besok-besok jika ada kesempatan, gunakan untuk bersih-bersih. Pecat saja yang tidak berkompeten dan hanya jadi benalu negara dengan cara yang konstitusional.

Rekrut yang baru, yang betul- betul mau melayani. Jangan lagi mau tertipu akting dan casing.

Sama seperti di hari Idul Fitri nanti, besok waktu Pemilu cari pemimpin dan wakil yang betul-betul siap dan ikhlas melayani. 

Yang benar-benar mulai dari 0000 (nol) dan belum banyak dosa pada rakyat. 

Ya, biar tidak kualat.

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.