Sungai Batanghari dan Pelabuhan Jambi dalam Jalur Rempah Nusantara (2)



Lada Jambi yang jadi primadona

Lada Jambi jenis Kemukus telah dikenal sebagai barang ekspor dan sempat menjadi primadona di pasar nusantara dan Cina pada abad ke-VIII (Wiiliam Marsden, 2008). Lada jenis ini tak hanya sekedar ditanam melainkan dibudidayakan. Asalnya dari barat daya India.


Dedi Arman (2018) menulis, lada pertama kali dibawa pedagang Arab dan Persia ke Banten. Lalu dikembangkan di sekitar Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena hasilnya kurang bagus, lada kemudian dibawa ke Sumatra.


Di Sumatra lada tumbuh subur dan bisa dikembangkan menjadi berbagai macam varietas baru: varietas Aceh, Jambi, Kerinci.


Lada Jambi ditanam terutama di distrik Tanjung dan Kuamang, dan federasi VII Koto dan IX Koto. Rempah premium ini juga ditanam di daratan dekat Sungai Muaro Ketalo dan sepanjang Sungai Batang Tembesi.


Produsen lada Jambi adalah petani Minangkabau yang tinggal di sepanjang Sungai Batanghari, dan para pedagangnya adalah orang-orang Portugis, Cina, Belanda dan Inggris, juga Sultan dan bangsawan Jambi.


Jalur perdagangan lada Jambi, menurut Dedi Arman (2018), terbagi dua: Pertama, dari daerah produksi di hulu dibawa ke hilir. Kedua, dari hulu melalui jalur alternatif ke Muaro Tebo, melewati Indragiri dan Kuala Tungkal, menuju Selat Malaka.


Lada Jambi yang ditanam di hulu dan dibawa melalui Sungai Batanghari ke wilayah hilir akan mendarat di Pelabuhan Jambi. Lada kemudian sebagian disimpan di gudang, dan ada juga yang langsung dinaikkan ke kapal-kapal dagang yang sudah menanti di pelabuhan.


 

Pelabuhan Jambi

Pada masa rempah dari Jambi mulai terkenal, pelabuhan Jambi menjadi sangat aktif  sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang dari pulau-pulau di nusantara, hingga dari benua asing.


Beberapa penelitian mengungkap pelabuhan Jambi, yang terletak di tepi Sungai Batanghari, sudah menjadi bandar niaga yang sangat penting sejak masa kuno. Pelabuhan ini sudah digunakan untuk aktivitas pelayaran sejak sebelum zaman kolonial, namun belum dilayari kapal besar.


Baca catatan terkait :


Pelabuhan Jambi disebut mulai ada masa Putri Selaro Pinang Masak yang memindahkan kerajaan Jambi dari Ujung Jabung ke tanah pilih (kawasan Angso Duo hingga ke masjid agung Al-Falah Jambi saat ini—lokasi keraton Jambi dulu). Pada waktu itu hanya berupa dermaga papan yang belum memadai.


Dermaga ini terletak di Muara Sungai Asam, dan menjadi pusat perdagangan masyarakat Jambi waktu itu. Ketika aktivitas pelayaran dan perdagangan semakin meningkat, dermaga papan baru dibangun di sebelah timur dermaga Muara Sungai Asam.


Dermaga baru tersebut berfungsi sampai tidak mampu lagi menampung kapal-kapal besar, terlebih saat permukaan Sungai Batanghari surut.


Dermaga kemudian direnovasi oleh pemerintahan kolonial Belanda pada tahun 1928 (ada yang menyebut sejak 1926), untuk memfasilitasi aktivitas perdagangan yang semakit padat. Terutama pelayaran ekspor karet Jambi yang semakin meningkat dari tahun ke tahun.


Pemerintah kolonial membangun Pelabuhan yang disebut “Boom Batu” dilengkapi rumah apung. Didukung berbagai fasilitas seperti areal perkantoran, rumah toko, pasar, pergudangan, dan kampung pacinan.


Pelabuhan Boom Batu Jambi sebagai pelabuhan ekspor hasil bumi Jambi, kewenangan pengelolaannya pada Badan Pelabuhan dibantu Polisi Kota, yang secara struktural berada di bawah Residensi Jambi.


Pasca kemerdekaan, sekitar tahun 1949, Boom Batu sepenuhnya dikelola dan diawasi oleh orang lokal Jambi. Sampai 1955 pelabuhan ini masih tercatat sebagai jalur pelayaran dan perdagangan dari dan menuju Jambi yang sangat ramai dan sibuk.


Boom Batu sebagai tempat, bertahan sampai 2003, sejak dibagunnya pertokoan moderen di lokasi itu. Namun pelabuhan Jambi sebagai fungsi, telah dipindahkan ke lokasi baru di Talang Duku Kabupaten Muaro Jambi (10 kilometer dari Kota Jambi) sejak tahun 1996.


Hingga saat ini pelabuhan Jambi tetap menjadi pusat aktivitas pelayaran dan perdagangan ekspor-impor. Membawa hasil bumi Jambi sampai ke Malaysia, Thailand, Korea, Jepang, India, Amerika Serikat, Eropa, dan Timur Tengah.


Pelabuhan Jambi di Talang Duku lebih banyak melayani kapal pengangkut karet/getah, kayu lapis, molding, dan batu bara. Tak seperti di (lokasi) Boom Batu yang dulu pernah menjadi bandar dagang lada Jambi yang termasyhur.



ket: 
- Foto ilustrasi lada (sumber: kebudayaan.kemdikbud.go.id)
- Foto pelabuhan Jambi (sumber: Arsip daerah Jambi)

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.