Catatan Jhoni

Inspirasi dan Informasi

"Ditulis dengan Hati dan Hati-hati"
Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin Path Gmail

Etika Mengingatkan

Kertas bertulis kalimat pengingat di salah satu masjid
Seorang laki-laki dengan jenggot dipotong rapi tengah khusuk menadahkan tangan, di bagian depan Masjid Jami' At-Taqwa. Duduk di atas kedua tumitnya, sesekali matanya terbuka dan terpejam.
Mulutnya bergerak dengan tempo tidak beraturan. Tanpa suara, bibir dengan kumis tipis itu komat-kamit. Sesekali cepat, seketika pelan. Tulang rahangnya membekas pada kulit pipinya yang ditumbuhi cambang.

Ia tak mengenakan peci, juga sorban. Tidak pula memakai baju koko dan celana cingkrang.
Tapi, kedalaman doa yang dipanjatkannya, membuat seorang pemuda lainnya, yang baru masuk, tak kuasa memalingkan pandangannya.

Imron, lelaki bertubuh sedang, mengenakan baju motif garis putih-coklat, terlihat berjalan melambat menuju tempat wudhu.

Di masjid ini, cara cepat untuk sampai di sana, bagi laki-laki, adalah dengan memotong jalan, lewat di tengah ruangan masjid.

Setiba di belakang, sekira sepuluh meter dari tempatnya berhenti, terlihat seorang tukang bangunan tengah serius memotong-potong besi.
"makmur juga masjid ini," pikir Imron.

Selain shaf sajadah shalat yang selalu diisi, terutama oleh mahasiswa/i dan orang yang lewat, di masjid ini pembangunannya cukup berkesinambungan.

Imron memang sudah familiar dengan rumah ibadah tersebut. Masjid Jami itu adalah tempat yang paling sering didatanginya untuk menunaikan Shalat Jum'at, selama kurun waktu 2005 sampai 2012.
Imron tiba-tiba berjalan agak cepat, berbalik dari tempat wudhu ke arah kiri.

Percikan air yang dia dengar barusan, memunculkan keinginan untuk p*p*s seketika itu juga.
Ia akan masuk lorong menuju toilet. Di atas lorong ada penanda khusus dari papan yang tergantung, bertuliskan "WC Pria". Dilengkapi tanda panah yang menunjuk ke arah dalam.

Baru berjalan lima langkah, ia menemukan lorong berbelok ke kiri. Di kiri, Imron melihat tiga pintu toilet yang berjajar mengahadapnya. Ia cepat-cepat masuk. Segera ditunaikannya hadast kecil, yang tertahan tadi. Di belakang pintu toilet, ia melihat kertas putih yang di-laminating menempel rapat.
Di situ tertulis : PERHATIAN! SETELAH BUANG HAJAT TOLONG DISIRAM DENGAN AIR YANG BANYAK!!!!
Sebuah kalimat pengingat yang lumayan halus dan sopan. Sayang penggunaan huruf besar dan penekanan dengan bold, italic, dan garis bawah pada beberapa huruf, terkesan sedang mengajarkan pada orang yang bebal. Sehingga perlu penekanan.

Mungkin mengingatkan perlu penekanan, tapi kebanyakan orang akan menjadi kurang nyaman dengan cara itu.
"lumayan lah," gumamnya.

Ketika keluar kamar kecil itu, Imron baru sadar, ada kertas bertuliskan do'a masuk tandas melekat di antara pintu masuk.

Di dinding-dinding lorong juga tertulis : KEBERSIHAN ADALAH SEBAGIAN DARI IMAN ; BERSIH ITU INDAH.

Imron lalu melanjutkan ke tempat Wuddhu. Ketika hendak membuka kran, tanpa sengaja ia melihat kertas yang bertulis : SUNNAH MENGHEMAT AIR WUDHU. Banyak pengingat di masjid ini.
Imron kembali terdiam. Ia teringat kalimat-kalimat pengingat di beberapa masjid yang ia 'singgahi dan sholatlah'.

Di bagian dalam dinding toilet masjid, menggunakan cat minyak, ditulis sebarang kalimat-kalimat pengingat. Kesannya sangat jauh dari kesan sopan, apa lagi Islami.

"SIAPAPUN ANDA, SETELAH BERAK KENCING DICUCI SAMPAI BERSIH"
Ada juga yang berbunyi begini : "KALAU BERAK KENCING, CUCI SAMPAI BERASIH"
Yang lebih parah begini: "WOI! SIRAM SAMPE BERSIH"
"YANG TIDAK MENYIRAM WC INI AKAN BERDOSA"

Yang membuat peringatan, kalaulah tidak dalam kategori kurang beretika, ia seperti orang yang putus asa.

Seolah-olah, tidak akan ada orang lagi, yang datang ke masjid, mau diingatkan dengan halus. Atau, semua orang yang datang ke masjid akan meninggalkan toliet dalam keadaan kotor, 'berak kencing' sesukanya, tanpa terkecuali.

Mungkin, yang membuat alpa menanyakan ke hati kecilnya terlebih dahulu, sebelum ia tuliskan kalimat. Kalau tulisan itu ditujukan kepadanya, kira-kira kalimat seperti apa yang harus ditulis.
Terlepas dari itu, saling mengingatkan tetap penting, sepenting adab dan etika mengingatkan itu sendiri.

Kadang-kadang bagaimana sebuah peringatan dan kalimat pengingat dibuat, sangat berkaitan erat dengan kondisi dan pengalaman di tempat adanya peringatan tersebut.
Misalnya yang terjadi di salah satu masjid. Meski juru parkirnya banyak, dan memungut biaya, pihak penjaga masih tetap memberikan penanda seperti ini :
"Tambahkan kunci ganda pada kendaraan anda. Kami tidak bertanggung jawab jika terjadi kehilangan". Bisa disimpulakn di masjid tersebut sudah tidak aman, atau pernah kejadian pencurian misalnya.

Beranjak dari soal itu, saling mengingatkan, sekali lagi, tetap menjadi sesuatu yang penting. Karena, tanpa adanya yang mengingatkan dan peringatan, seorang kawan pernah mendapat musibah di salah satu masjid.

Ketika hendak pulang, seusai shalat Ashar, kawan ini harus menyaksikan motor yang tadi diparkirnya, raib. Kepada salah seorang jama'ah shalat, yang masih di lokasi, ia ceritakan kejadian itu. Barulah dirinya tahu, bahwa di lingkungan masjid itu, sering terjadi pencurian.

Begitulah, terlepas dari soalan nasib, kawan tadi harus menanggung kerugian karena tidak diingatkan. Akibat yang timbul dari tidak ada peringatan (baca yang mengingatkan), justru terpaksa ia ingat terus sampai sekarang.

pertama kali dipublish di FB pada 29 Maret 2017 Pukul 11:50
Labels: Catatan Perjalanan, Jambi, Opini

Thanks for reading Etika Mengingatkan. Please share...!

Inspirasi dan Informasi Lainnya

Kata Mutiara

Kata Mutiara
Menulis adalah kodrat yang tak boleh pupus oleh alasan apa pun. Karena bersama itu, kita akan menyadari arti pentingnya belajar, membaca, dan berbagi.
Back To Top