Catatan Jhoni

Inspirasi dan Informasi

"Ditulis dengan Hati dan Hati-hati"
Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin Path Gmail

Pasuruan-Probolinggo; dari Sate Komo hingga Wisata Bromo

Oleh : Jhoni Imron

Bekerja sembari melakukan petualangan, kenikmatannya berkali-kali lipat lebih besar daripada hanya menjadi mesin pencetak uang. Beruntungnya, pekerjaan apapun yang kita lakoni bisa menjadi alam petualangan, jika kita mau. Ya... Apapun itu!
Kali ini aku akan menceritakan pengalamanku bertualang ke Jawa Timur, beberapa waktu lalu.
Salah satu kenangan saya di Bromo

***
NADA “Pizzicato”—salah satu pilihan nada dering— dari smartphone yang tergeletak di meja membuyarkan konsentrasiku melahap buku karangan A Fuadi, siang itu. Suara itu merupakan nada notifikasi pesan masuk, android yang aku miliki.  Aku pun sekonyong-konyong membukanya.

Benar saja. ‘Sepucuk’ Email dikirimkan Supervisor-ku dari seberang. Isinya adalah Tiket yang sudah di-issued untuk keberangkatanku ke Jakarta dua hari berikutnya.

Jakarta sebenarnya bukanlah tujuan utamaku. Kota metropolitan ini hanya menjadi tujuan antara. Lusanya, aku akan melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur. Tentu setelah nanti malam, dan hingga sepertiga malam besoknya, aku menginap di kota hujan, Bogor.

Dini hari, pukul 02.40 Wib, aku bersama supervisor dan seorang kawan sudah berangkat ke Bandara Soekarno Hatta (Soetha), Cengkareng. Kami bertiga akan melakukan penerbangan ke Surabaya. Pesawat yang kami tumpangi berangkat pagi sekali. Kalau tidak salah, ini penerbangan perdana, hari itu. Kami sengaja berangkat dini hari dari Bogor, supaya terhindar dari kemacetan di Ibukota.

Kami baru sampai di Bandara setelah kumandang azan Subuh. Aku bergegas menuju mushalla sesampainya di Bandara Soetha. Pesawat kami hari itu, berangkat sesuai jadwal.

Di Surabaya, sudah ada mobil sewaan—tentu dengan driver sewaan juga—yang menunggu kedatangan kami di Bandara Juanda. Dari Juanda, kami lalu melanjutkan perjalanan ke Kota Pasuruan. Di kota ini, beberapa orang kawan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah sudah menunggu untuk bergabung dalam penelitian.

Di Kota Pasuruan driver membawa kami berkeliling alun-alun, lalu berhenti di warung makan. Warung ini desainnya sederhana. Menu andalannya? Apalagi kalau bukan Nasi Rawon, juga Sate Komo. “Ini khasnya Pasuruan,” kata driver kepadaku.

Aku agak kaget juga waktu itu, ketika dihidangkan sate. Potongan-potongan daging yang ditusuk bambu itu ukurannya besar-besar. Sangat berbeda dengan sate yang biasa kutemukan di Sumatera.
“Ini apa bu?” tanyaku kepada pelayan yang menghidangkan sate.
“Ini yang namanya sate komo mas,” jawab si ibu, disertai senyum. “Kalo yang ini rawon setan,” si ibu menambahkan.

Sate Komo
Tanpa berpikir panjang, potongan daging sate komo  kulahap dengan cepat. Rawon setan langsung  kutuangkan kuahnya ke piringku, seperti kesetanan. Aku kesetanan. Kesetanan rawon setan. (hahaha)

Rasanya memang agak aneh bagi lidahku yang baru merasakan jenis makananan khas Jawa Timur ini. Tapi, perpaduan pedas dan asam yang pas, membuat mulutku tak bisa berhenti mengunyah. Kenikmatan rawon, juga sate komo, semakin lengkap ditemani kerupuk khas yang disodorkan pemilik warung makan.

Usai makan, kami melanjutkan mencari tempat menginap. Pilihannya Hotel Pasuruan, tidak jauh dari alun-alun. Kami segera beristirahat. Besok harinya kami akan melanjutkan perjalanan ke lokasi penelitian, di Kabupaten Pasuruan.

***
Singkat cerita, petualanganku di Kabupaten Pasuruan akhirnya berlanjut rencana wisata ke Gunung Bromo. Waktu itu kami sudah menginap di desa terdekat menuju gunung : Desa Wonokitri Kecamatan Tosari.  Aku kebetulan ditugaskan untuk mencari Hardtop (atau Jeep), mobil sewaan untuk menjelajahi wisata Bromo. Kami memutuskan ke Bromo besok harinya. Masih di awal Mei 2017.

Kami berangkat pagi-pagi sekali, sekira pukul 03.00 Wib. Jeep yang kami sewa, telah menunggu di persimpangan jalan menuju tempat kami menginap. Mas Ikade, nama pemiliknya, menelponku ketika kami sedang bersiap-siap untuk penjelajahan tersebut.

Kami sudah sepakat pada siang harinya, bahwa untuk menjelajahi wisata Bromo, kami menggunakan jasa Mas Kadek (demikian ia biasa disapa). Biaya sewa jeep waktu itu Rp. 500.000. Harga jasa angkutan ke Bromo memang tergantung nego dan rute yang dituju.

Kami  memilih tiga tempat untuk dijelajahi: Menyaksikan sunrise di puncak Pananjakan, dilanjutkan mendaki Bromo dengan keindahan pemandangan dan fasilitas berkuda yang ditawarkan, terakhir kami ke Bukit Teletablis, eh... telethabis, aih... teletubbies (sampai belepotan nulisnya. hahaha). Sepanjang perjalanan sejak di pelataran, aku tidak bisa tenang. Petualangan ke Bromo adalah yang pertama kali buatku. Ada rasa bercampur entah: senang, penasaran, dan lain-lain.

Nasib Pemburu Sunrise
Untuk menyaksikan matahari terbit di Bromo, kami harus berada di puncak Gunung Pananjakan. Orang biasa menyebut puncak Pananjakan 1—puncak Pananjakan 2 Gunung Bromo terletak di Kabupaten Probolinggo. Letaknya masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN-BTS). Dengan memulai perjalanan pukul 03.00 Wib dari Wonokitri, kata Mas Kadek, kami akan tiba di sana paling lambat setengah jam sebelum sunrise. Untuk mendapatkan momen langka tersebut, kami harus sudah berada di puncak Pananjakan antara pukul 04.30 Wib hingga 05.00 Wib.
Jeep kemudian dipacu. Berburu dengan waktu. Sepanjang perjalanan ada ratusan jeep terlihat lalu-lalang. Kendaraan roda dua juga ramai-ramai konvoi menuju Pananjakan.

Di Panajakan 1, matahari terbit akan terlihat dari puncak sekira pukul 05.20 Wib. “Sebelum setengah lima sudah nampak,” terdengar penjelasan seorang wisatawan kepada temannya yang berdiri di depanku, setibanya kami di puncak.

Detik-detik menunggu sang surya muncul, para “pemburu sunrise” terlihat tidak sabar. Berbagai macam tingkah dan aktivitas mereka lakukan selama menunggu. Aku yang sedari tadi ikut menunggu—dan belum ada tanda-tanda sunrise—beranjak untuk melaksanakan shalat subuh. Di area ini sudah disediakan tempat untuk pengunjung—bagi yang muslim—shalat.

Usai sembahyang,  aku pun kembali ke tempat duduk semula. Tempat itu telah diamankan oleh seorang kawan.  Sebentar saja, aku kemudian memutuskan berdiri. Jumpalitan orang-orang, berdiri, berjalan, di depanku. Aku tak leluasa melihat ke arah yang diyakini sebagai tempat kemunculan matahari. Jika dari tangga, kita hanya berjalan agak ke kanan. Di situlah aku berharap mengintai sunrise.

“Aaah...,” suara kekesalan orang-orang terdengar berjamaah, memecah ketegangan penantian sunrise. Suara itu dari sebelah kiri tempatku berdiri. Ternyata tepat di depan mereka pelan-pelan sumber cahaya mulai menyembul dari balik bukit.

Aduh..!  Keliru. Sebagian wisatawan keliru. Sunrise muncul tepat di samping kiri pendopo. Orang-orang berduyun-duyun ke sumber suara. Aku segera berlari mengikuti orang-orang yang ramai berpindah ke sisi sebelah kiri. Perburuan sunrise di Bromo ibarat berburu harta karun bagiku.

Warna merah mulai keluar dari balik bukit. Namun, hanya dalam hitungan menit, cahaya yang tadi baru terlihat sedikit, tiba-tiba hilang tertutup awan. Puncak bukit yang tadi terpapar merah, kini kembali gelap. Hingga pagi menjelang,  aku tidak dapat sepenuhnya melihat matahari terbit di Bromo.

Para "pemburu" sunrise

Perburuan sunrise perdanaku terkategori belum berhasil—untuk tidak menyebutnya gagal. Kami, satu rombongan kembali menuruni puncak Pananjakan, menuju Jeep, melanjutkan perjalanan menjelajahi keindahan kedua, mendaki Gunung Bromo.

Pendakian di Luar Jalur
Hari sudah semakin terang saat kami turun menuju Gunung Bromo. Sepanjang penurunan, di sebelah kiri Jeep-jeep sewaan terlihat menyemut menuju gunung. Kami mengikuti iring-iringan, dan akhirnya mesin mobil dimatikan di perhentian yang sudah disiapkan pihak pengelola. Di situ terparkir Jeep dengan berbagai usia dan warna.

Kami keluar dari Jeep, lalu berfoto dengan latar Bromo, juga barisan bukit yang hijau. Kegiatan foto-foto ini saja sudah menghabiskan setengah jam.

Aku kemudian langsung saja meninggalkan tim, berjalan kaki menuju Gunung Bromo. Di belakangku beberapa orang kawan berlarian mengikuti. Kami melewati lautan pasir beberapa kilometer. Meski banyak tawaran jasa berkuda, kami memilih tetap berjalan kaki. Selain karena ingin menikmati perjalanan, cara ini juga untuk menyetop penambahan biaya (ekonomis.. hihihi). Ada dua orang yang benar-benar ikut bersamaku hingga sampai ke kaki gunung.

Dari kaki gunung, sebenarnya orang-orang harus antre menapaki anak tangga menuju puncak Bromo. Kalau melihat panjang antrean yang mengular, rasanya kesempatan melihat kaldera Bromo harus pupus. Tapi, aku bertekad tidak boleh kehilangan kesempatan lagi. “Belum tentu  bisa ke tempat ini lagi,” pikirku.

Tanpa berpikir panjang,  aku kemudian mendaki di sebelah kanan tangga. Track ini, meski juga diikuti beberapa orang, bukanlah jalur yang dianjurkan.

Keinginan melihat kawah Bromo, mampu mengalahkan ketakutanku saat itu. Hanya mengandalkan sandal gunung, aku berlari mendaki punggung Bromo yang cukup curam. Di tengah perjalanan aku  berhenti untuk istirahat.

“Tidak, jangan lihat ke bawah,” perintahku dalam hati.
Keinginan melihat ke arah lautan pasir yang tadi kulalui membawa pandanganku turun ke kaki gunung. Seketika lutut terasa bergetar. Keringat mulai mengalir. Terpikirkan olehku bagaimana jika tiba-tiba terpeleset dan jatuh? Aku semakin takut. Kupaksakan untuk duduk, tanpa mau lagi melihat ke bawah.

Beberapa menit menenangkan diri, aku lalu melanjutkan pendakian. Kali ini dengan sedikit merangkak (agak ciut juga.. hehe). Cukup lama  mendaki, akhirnya sampai di puncak. Merdeka sekali rasanya. Meski pandangan agak berkunang-kunang.

Kawah Gunung Bromo
Duduk di pinggir tebing kawah dan mengabadikannya dengan kamera androidku, telah menghapus semua takut dan penat. Setelah dirasa cukup, aku lalu menuruni anak tangga menuju parkiran Jeep. Kami kemudian melaju menuju Bukit Teletubbies.

Narsis di Bukit Teletubbies.
Agaknya penamaan bukit ini terinspirasi dari film kartun anak yang dibintangi karakter Tinky Winky, Dipsy, Laa Laa, dan Po. Di film itu memang selalu menampilkan latar bukit rerumputan hijau, lengkap  dengan segala keindahannya. Film anak itu mengudara di televisi pada penghujung 90-an hingga awal 2000-an. Benar tidaknya dugaan itu, aku tidak pernah bertanya langsung ke mas Kadek maupun penduduk lokal.

Keindahan bukit ini memang sangat memesona. Bukit Teletubbies ditumbuhi jenis pakis-pakisan, ilalang, juga jenis lavender dan berbagai jenis rerumputan lainnya. Lekukan bukit yang tercipta menjadikan tempat ini terpampang seperti di kanvas lukisan.

Bukit Teletubbies Bromo, oleh penduduk lokal disebut juga Lembah Jemplang. Lembah savana yang terletak di sebelah selatan Gunung Bromo itu masuk ke dalam Desa Cemoro Lawang Kecamatan Sukapura Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Untuk sampai kesana, kita hanya perlu melewati lautan pasir. Orang-orang bilang luasannya kurang lebih 10 kilometer per segi.

Sesampai di bukit Teletubbies, aku kembali mengabadikan petualangan tersebut dengan kamera. Kali ini, kami foto bersama dengan berbagai macam pose dan gaya (Pokoknya narsis abisss!). Meski bukan untuk promosi, apalagi pra wedding, gaya kami (menurutku) bisa menyamai pose para bintang di sampul film. Bukan tersebab modelnya yang keren, tapi latarnya sangat mendukung. Keindahan bukit Teletubbies sulit untukku deskripsikan.

Kuda dan pemiliknya di Bukit Teletubbies
Pulang setelah dia berbisik
Setelah dari Bukit Teletubbies, kami menyempatkan berhenti di sebelah Gunung Bromo. Mas Kadek berbaik hati menawarkan kami tempat yang sebenarnya di luar kesepakatan jasa transportasi.

“Ini namanya pasir berbisik mas,” ujar Mas Kadek kepadaku. “Kita berhenti sebentar tah,” lanjut Mas Kadek, dalam logat Tengger yang kental.

Dari informasi Mas Kadek, kalau angin lagi kencang, dengan berdiri di tempat aku berhenti saat itu, akan terdengar suara pasir-pasir berbisik. Entah karena  diterbangkan angin. Entah karena gesekan antar pasir.  Entah karena pertemuan angin dari puncak Bromo dengan yang  dari dataran di bawahnya. Aku juga belum mendapat penjelasan ilmiahnya.

“nguiing..nguiiiwiw.., begitu bunyinya mas,” mas kadek menirukan yang disebutnya suara pasir berbisik. “O... saya pikir bisikan ‘I love U’ dari seorang putri,” candaku. Meski hanya mendengar sedikit bisikan, kami sudah cukup senang. Di tempat ini, satu dua petikan kamera sudah cukup.

Jam menunjukkan pukul 11.50 Wib. Panas di sekitar Gunung Bromo sudah mulai menyengat. Kami meminta driver menyetir mobilnya kembali ke Wonokitri. Perjalanan pulang, kami akan tetap melewati jalanan berpasir.

Ketika mengintip dari celah kaca Jeep di samping kanan, aku melihat kuda-kuda berlarian. Di kejauhan terlihat para penunggang kuda memacu tunggangannya meninggalkan lembah berpasir di kaki Bromo. Satu satu mereka menghilang ke dalam rerimbunan pohon cemara gunung.

“mereka tinggal pulang kerumah, lalu istirahat. Tidur maning,” kata Mas Kadek menjelaskan.
Para penunggang kuda adalah warga sekitar Bromo yang sehari-hari kerjanya menawarkan jasa berkuda, dari dan menuju kaki Gunung Bromo.

“sama seperti kita, mereka mulai berdatangan sejak Subuh,” jelas Mas Kadek. Aku mengangguk paham.

Aku lalu memalingkan pandangan kembali ke Bromo, sampai terasa ban depan mobil sudah menyentuh aspal. Jeep mas Kadek lalu merayap dengan double gardan, menaklukkan tanjakan terjal diselingi belokan patah. Setiba di puncak, kami lalu berbelok ke arah kiri. Di depan sudah menanti jalan dengan  turunan tajam dan panjang. Di kiri-kanan jalan tumbuh berbagai jenis flora khas pegunungan. Ada Pinus. Cemara.

Perjalanan kami menuju Desa Wonokitri diiringi tembang kenangan yang mengaduk-aduk hati. “Terasa betul sedang jauh dari tanah kelahiran,” gumamku, sambil menerawang.

Teman-teman yang tadinya asyik bercanda tampak kelelahan, terbaring di bangku Jeep. Meski terlihat memejamkan mata, hanya satu orang yang aku duga benar-benar tertidur. Yang lain, mungkin sedang terhanyut dalam lamunan masing-masing.

Aku sendiri terus saja menerawang. Mengingat-ingat kembali keindahan cipatan-Nya: Bromo bersama keindahan lain di sekelilingnya. Aku pun berjanji, petualangan itu akan aku tulis. Dan menulis tentang Bromo adalah titik awal untuk aku kembali aktif menulis.

Rasa yang masih berlum terpuaskan
Meski belum memenuhi rasa puas, perjalanan wisata ke Bromo siang itu harus kami sudahi. Tentu masing-masing kami akan kembali beraktifitas seperti sedia kala. Memang yang terpenting dari perjalanan seperti ini, bukanlah akhir atau tujuan yang ingin dikejar. Menikmati setiap detik-detik perjalanan itulah yang memperkayaku dengan berbagai pengalaman: Inspirasi, wawasan, dan hal-hal baru lainnya, yang itu sulit kudapatkan jika hanya berdiam di daerah asalku.

***
Itu sekelumit pengalamanku mengunjungi Bromo beberapa waktu lalu. Jika mendengar nama gunung itu, teringin sekali rasanya kembali menjelajahi keindahannya. Perjalanan wisata satu hari rasanya belum cukup untuk menjangkau sampai ke sudut-sudut, puncak-puncak, hingga lembah-lembah terdalam tempat wisata kebanggaan Indonesia itu.

*Tulisan ini dimuat di kajanglako.com
Labels: Berita, Catatan, Catatan Perjalanan, Informasi, Inspirasi

Thanks for reading Pasuruan-Probolinggo; dari Sate Komo hingga Wisata Bromo. Please share...!

0 Comment for "Pasuruan-Probolinggo; dari Sate Komo hingga Wisata Bromo"

Tulia komentar sahabat di sini...

Inspirasi dan Informasi Lainnya

Kata Mutiara

Kata Mutiara
Menulis adalah kodrat yang tak boleh pupus oleh alasan apa pun. Karena bersama itu, kita akan menyadari arti pentingnya belajar, membaca, dan berbagi.
Back To Top