Catatan Jhoni

Inspirasi dan Informasi

"Ditulis dengan Hati dan Hati-hati"
Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin Path Gmail

PETI untuk (Menjemput) Mati

http://kajanglako.com/id-2383-post--peti-kembali-makan-korban-dua-orang-tewas-tertimbun-tanah.html
Catatan Jhoni - Seperti itulah PETI, pada akhirnya ia hanya dipersiapkan untuk (menjemput) mati. Meski dihiasi dengan mimpi gelimang rupiah, yang melenakan pelaku PETI. Pelaku, baik pemodal, pelaksana, maupun pemodal sekaligus pelaksana di lapangan bisa terus terbuai keasyikan mengeruk sumber daya alam tanpa tuan tersebut, dengan mengesampingkan akibat buruk dari aktivitas yang dilakukannya.

PETI atau Penambangan Emas Tanpa Izin memang marak terjadi di hampir semua kabupaten di (wilayah barat) Provinsi Jambi, beberapa tahun terakhir. Bahkan aktivitas ini sudah tergolong ‘gila-gilaan’ dilakukan. PETI tak hanya mencemari sungai, aktivitas ilegal tersebut juga merusak badan dan sempadan sungai serta jalur aliran air.

Setelah itu apa lagi? PETI juga merangsek ke wilayah hutan hingga masuk ke kawasan taman nasional.

“Dari analisis yang dilakukan, pengerukan tambang ilegal sudah masuk ke dalam kawasan lindung, yaitu kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) di wilayah Merangin dan Hutan Lindung Bukit Limau di Sarolangun,” kata Rudi Syaf, Direktur Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) WARSI.

Secara langsung PETI turut menyumbang laju deforestasi. Publikasi catatan akhir tahun 2017 KKI WARSI, di Kantor pusatnya di kawasan Pematang Sulur Kota Jambi, beberapa waktu lalu, menyebut luasan hutan di Provinsi Jambi sudah masuk kategori Darurat. “Laju deforestasi makin tak terbendung”.

Dari analisis Citra Satelit yang dilakukan Tim GIS KKI WARSI, tutupan hutan di Provinsi Jambi pada 2017 tinggal 930 ribu hektar, atau hanya 18 persen dari luas  daratan Jambi. Berkurangnya luas tutupan hutan disebutkan salah satunya karena maraknya aktivitas tambang ilegal (PETI).

“Kehilangan hutan dipicu sejumlah aktivitas manusia, di antaranya alih fungsi hutan, tambang illegal dan perambahan liar,” kata Rudi Syaf, Direktur KKI WARSI.

Dalam catatan WARSI, PETI paling banyak terjadi di Kabupaten Merangin, Sarolangun dan Bungo. Interprestasi Citra Lansat 8 tahun 2017, seluas 27.822 hektar lahan alami kerusakan akibat penambangan emas ilegal. Dari jumlah itu, di Sarolangun adalah yang paling luas, yaitu 13.762 hektar. Disusul kemudian Merangin seluas 9.966 hektar dan Bungo 4.094 hektar.

Jika dibandingkan dengan analisis tahun 2016, areal yang dibuka untuk penambangan ilegal meningkat lebih dari 100 persen di wilayah  Merangin dan Sarolangun. Areal tambang ilegal ini diperkirakan separuhnya merupakan kawasan persawahan yang sebelumnya menjadi sumber pangan masyarakat setempat.

PETI yang Merusak dan Memakan Banyak Korban
Aktivitas PETI yang dilakukan di sepanjang sungai, menyebabkan alur sungai menjadi lebih luas dan terdapat bekas galian terbuka yang menjadi lahan kritis. Akibatnya, bencana ekologis, konflik, tak bisa dihindarkan. Ditambah lagi alih fungsi lahan dan hutan serta pembalakan liar yang masih terus terjadi. Banjir dan longsor makin sering datang dan menjadi ancaman yang tak bisa dielakkan.

Menurut catatan KKI WARSI, ribuan warga menjadi korban dari bencana ekologis yang terjadi di Provinsi Jambi. Bahkan, 7 orang di antaranya kehilangan nyawa, selebihnya mengungsi. Ribuan rumah terendam, ribuan hektar sawah serta fasilitas umum seperti sekolah, mushala dan pusat kesehatan juga ikut terdampak.

“Selain banjir di Jambi juga ditemukan sejumlah kasus longsor, hujan deras disertai angin kencang dan petir. Sejumlah pohon di pusat permukiman bertumbangan,” ujar Rudi Syaf.

Dampak lain dari aktivitas PETI sangat meresahkan masyarakat di sepanjang aliran sungai. Dalam catatan akhir tahun 2017 KKI WARSI, air yang mengalir di sungai-sungai yang melewati pemukiman warga di Provinsi Jambi masih merupakan sumber utama kebutuhan masyarakat. Mereka memanfaatkan air sungai untuk berbagai keperluan sehari-hari, seperti untuk mandi, minum dan keperluan lainnya.

PETI yang menggunakan merkuri untuk pemisah biji emas disinyalir telah mencemari air sungai yang sehari-harinya digunakan warga. Di beberapa tempat, PETI menjadi penyebab ratusan hektar sawah tak bisa ditanami, lebih seratus lubuk larangan terancam.

Bukan hanya merusak lingkungan, aktivitas PETI juga sudah banyak memakan korban jiwa. Terhitung mulai tahun 2012 hingga akhir 2017, sedikitnya 62 korban meninggal dunia akibat aktivitas PETI. Tragedi meninggal pelaku PETI hampir selalu dalam keadaan mengenaskan. Peristiwa longsornya lubang jarum PETI yang memakan banyak korban akibat tertimbun material, di Merangin. Lalu ada banyak lagi kejadian lainnya yang merenggut nyawa pelaku maupun korban terdampak aktivitas PETI.

“Ironisnya, makin banyak korban yang meninggal dunia akibat PETI, justru membuat luasan lahan PETI makin luas, belum ada peranan konkrit pemerintah dalam melakukan pencegahan,” kata Rudi Syaf, Direktur KKI WARSI. (*)

Labels: Catatan, Jambi

Thanks for reading PETI untuk (Menjemput) Mati. Please share...!

0 Comment for "PETI untuk (Menjemput) Mati"

Tulia komentar sahabat di sini...

Inspirasi dan Informasi Lainnya

Kata Mutiara

Kata Mutiara
Menulis adalah kodrat yang tak boleh pupus oleh alasan apa pun. Karena bersama itu, kita akan menyadari arti pentingnya belajar, membaca, dan berbagi.
Back To Top