Waspada yang Jadi Curiga



Tak seperti biasanya, suasana di RSJ Prov Jambi sepi begini. Waktu lalu, jika datang sekitar pukul 09.00 WIB, dipastikan pengunjung sudah ramai. 

Lalu lalang pegawai atau staf rumah sakit dan keluarga pasien, kadang sudah seperti lintas Jambi - Muara Bulian di hari biasa.

Pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang tergolong asyik dengan dunia khayalannya sendiri. Kadang tertawa cekikikan. Kadang terdengar dan terlihat marah. Kadang sibuk sendiri memandang ke bawah, berputar-putar entah mencari apa.

Di musim Covid-19 semua berubah. 

Ini kondisi Rabu (08/04/2020) pagi, pukul 09.01 WIB.

Kursi-kursi tunggu yang bergandeng 4 yang  biasanya penuh, sekarang hanya diisi dua orang di setiap sisi/ujung kursi. Di tengahnya sudah dipasang selotip warna merah, membentuk huruf X pertanda dilarang.

Jika kursi sudah penuh, maka berjejerlah orang-orang berdiri di beberapa titik. Tanpa  perlu diatur, mereka sudah membuat jarak minimal 1,5 Meter.

Tadi ketika baru datang, sebelum masuk ke ruang pendaftaran, pasien atau keluarga pasien juga ditanyakan nama, alamat, nomor hp, di pintu masuk. Tambahan, dan mungkin ini yg penting: adakah keluhan seperti demam, pilek. Lalu, pernahkah dalam dua bulan terakhir bepergian ke luar kota atau luar provinsi (jika iya tentu ditanyakan nama daerahnya. Apakah masuk zona merah, terpapar corona atau tidak). 

Jika jawaban dua pertanyaan tadi adalah tidak, maka pasien atau keluarga pasien yang akan mendaftar administrasi berobat tadi dipersilakan mencuci tangan di tempat yang disediakan. Ya, dengan hand sanitizer.

Bagi saya yang baru pertama menghadapi situasi ini, agak kikuk juga awalnya. Menerapkan social atau phsycal distancing di rumah sakit, agak ngeri-ngeri sedap juga.

Karena sebagian besar yang datang adalah untuk berobat, hampir bisa dipastikan di rumah sakit lah tempat bertemunya berbagai macam penyakit. Ya, meskipun ini rumah sakit yang diutamakan untuk pasien kejiwaan. Tetap saja namanya rumah sakit.

Ya, Begitulah. 

Tapi yang jelas di sini sudah diterapkan penjarakan sosial /fisik (Social/Physical Distancing)

Tapi namanya social distancing atau phsycal distancing di tingkat masyarakat, setiap orang menerapkan dengan cara berbeda. Ada yang sejak kedatangannya dengan sadar menjaga jarak, ada pula yang mesti dikasih tahu. 

Ada yang harus diberi kode dengan cara selalu menghindar jika berdekatan dengannya. 

Beberapa orang sudah mulai terbiasa dan menikmati penjarakan ini. Mereka masih bisa tersenyum dengan keadaan yang disebabkan Covid-19. 

Tapi tidak sedikit, yang dengan dalih waspada, terjerumus pada sikap saling curiga. Melihat kawan di sebelah dan orang di sekelilingnya dengan tatapan penuh tanya. 

Karena sama-sama tidak tahu, teman di sebelahnya dari mana, sakit apa, apakah ia sudah menjadi carrier (pembawa covid-19) tanpa dia tahu. 

Di sini berlaku semacam postulat, siapapun bisa menulari siapa saja. Atau dalam bentuk lebih egois: siapa saja bisa menulari saya.

Yang agak membuat bergidik, tentu saja, jika terdengar suara bersin atau batuk salah seorang di ruangan. Tanpa dikomandoi yang lain serentak menoleh ke sumber suara. Lalu saling berpandangan.

Hanya berpandangan. Tanpa kode mata. Tanpa suara. Masing-masing menikmati arah berpikirnya sendiri-sendiri.

Jangan-jangan...jangan-jangan.

Aahh... Ngeri betul berada di rumah sakit pada masa pagebluk ini. Anda waspada, anda curiga.

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.