Batas


Bila kemarahan seseorang sudah di puncak, biasanya dia akan berujar, atau paling tidak ngedumel, menggerutu (merutuk), "sabar itu ada batasnya!"

Sepintas memang ada benarnya ujaran atau gerutuan itu.

Batas sabar adalah tatkala kita sudah kehilangan kesabaran. Karena ketika itu juga kita sudah berada pada kondisi tidak sabar.

Bagi seorang penikmat dan pencari hikmah kehidupan, sabar itu tidak ada batasnya. Tapi defenisi sabar sendiri jelas ada batasannya. Ada batasan tertentu suatu sikap yang dipilih, kita sebut bersabar.

Misalnya berkaitan dengan pandemik Covid-19. Kalau kita disuruh pemerintah bekerja dari rumah (work from home) sementara pekerjaan kita harusnya dikerjakan di luar rumah, harus ngantor, di jalanan, harus ke suatu tempat tertentu, working outdoors, dan sebagainya. Dan kita ikuti anjuran pemerintah dengan terus mencari cara agar dapur tetap ngebul dengan sebisa mungkin bekerja dari rumah. Pemasukan berkurang atau bahkan hilang, tabungan menipis atau mungkin habis, kita tetap disiplin ikuti imbauan meski secara ekonomi terjerumus ke kondisi prihatin tanpa ada datang bantuan, kita sudah pasti masuk kategori bersabar.

Kita menyaksikan pemangku kepentingan bicara di depan kamera dan ujarannya dikutip di media, bahwa negara menyediakan bantuan untuk rakyat terdampak. Kemudian media memberitakan bantuan sudah disalurkan, kita merasakan bantuan tidak sampai ke kita dan kita memilih diam saja, itu kita juga sudah bersabar.

Atau jika terjaring, dari bantuan itupun kita hanya dapat sedikit, karena sebagian besar yang disebut bantuan tidak kita tahu betul apa manfaatnya. Bantuan misalnya lebih banyak masuk ke pemborong atau pihak ketiga daripada yang bisa dibelanjakan untuk beli cabe, beras, dan keperluan dapur rumah tangga kita.

Kita menerima dengan lapang dada, toh masih banyak yang justru tidak tersentuh bantuan. Itu artinya kita sudah mempraktekkan bagaimana bersyukur.

Meski sebenarnya, rasa syukur itu tidak harus datang setelah ada perbandingan. Ia tidak perlu dibatasi dengan kejadian setelah kita dapat sesuatu sementara orang lain tidak.

Dari sini kita tahu, bahwa yang membedakan suatu keadaan tertentu dengan keadaan lainnya adalah pada batasannya.

Yang membedakan satu tempat/wilayah tertentu dengan tempat/wilayah lainnya juga terletak pada batas dan batasannya.

Dataran tinggi dengan rendah, dibedakan oleh batas. Wilayah pantai dengan perbukitan dan pegunungan, ada batasannya masing-masing.

Wilayah dengan ketinggian 0 s.d 200 m dpl, biasa disebut dataran rendah. Ada yang memberi batasan 300 s.d 600 m dpl sebagai dataran tinggi. Ada juga yang menyebut jika dataran tinggi batasnya ialah lebih dari 600 m dpl.  

Ada juga sementara yang bilang dataran tinggi berada pada ketinggian 300 s.d 600 m dpl. Di atas 600 sebagai wilayah pegunungan--yang sebenarnya termasuk tempat tinggi atau dengan ketinggian yang kelewat tinggi.

Namun dalam salah satu situs ilmu geografi, batasan dataran rendah dengan tinggi itu adalah jika berada di bawah dan di atas ketinggian 200 mdpl.

Tapi yang ingin saya sampaikan dalam catatan ini bukan berapa batasan disebut dataran rendah, dan sampai mana suatu wilayah disebut dataran tinggi.

Saya ingin coba menarik suatu kesimpulan, bahwa pembeda antara tinggi-rendah tadi adalah adanya batasan. Batasnya di mana.

Yang memisahkan suatu tempat dengan tempat lainnya, juga ialah batas. Yang mengubungkan keduanya adalah batas juga. 

Jarak bukan pemisah atau penghalang jika jarak tidak melewati batas pemisah tadi. Jalan juga bukan penghubung jika dia tidak melewati batas itu.

Dari dulu, hal yang paling membuat kita aman dan tidak celaka adalah jika kita tahu kapan dan di mana batas sesuatu. Makanya kita diminta tidak melampau batas. Ya, dalam segala hal. Dalam segala urusan.

Hidup di masa muda tidak hancur-hancuran jika kita tahu batas pergaulan yang masih bisa diikuti dan yang mana mesti kita hindari.

Nah, kesimpulannya lagi adalah, sesuatu yang berkaitan dengan dunia, pasti ada batasnya. Dunia ini ada akhirnya. Sementara sesuatu yang berhubungan dengan akhirat, itu tak berbatas.

Sabar itu laku dunia, tapi resonansi dan hakikatnya itu bersifat akhirat. Syukur juga demikian. Bersyukur adalah sesuatu yang jika kita lakukan di dunia, maka itu artinya kita sudah memiliki kunci hidup di akhirat.

Jadi tulisan ini tentang apa? Batas, Sabar, atau tentang Bersyukur?

Tidak ketiganya. 

Ini tentang ikhlas! 

Lho?! 

Iya! 

Karena ikhlas tak berbatas. Jika ikhlas, kita pasti bisa bersabar dan sudah bersyukur. Begitu hebatnya Ikhlas itu.

Jadi, terima kasih ya, sudah ikhlas membaca catatan ini.

Kita sudah sampai pada batasnya.

2 komentar:

  1. Barakallah. Semoga tulisannya terus muncul agar memberi informasi yg bermanfaat bagi semua pembaca.

    BalasHapus

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.