Pemimpin yang Melayani, Masyarakat yang Peduli



Ada dua poin yang bisa saya catat dari dialog atau bincang-bincang antara Aa Gym dengan Mang Tantowi Yahya yang tayang di official youtube Aa, tadi pagi.

Mindset positif dan Hati yang terjaga. Hasilnya adalah kepemimpinan dan pemerintahan/negara yang melayani, penuh empati, dan masyarakat yang peduli.

Tapi sayangnya, itu terjadi bukan di sini. Semuanya diceritakan Mang Tantowi berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadinya selama kurang lebih tiga tahun bertugas di New Zealand.

Di New Zealand, tempat di mana Mang Tantowi berkantor sebagai Duta Besar, sangat berbeda sekali bagaimana hubungan negara/pemerintahan dengan rakyatnya. Juga sikap hidup yang diambil oleh pemimpinnya, berbeda sekali dengan banyak negara lain. 

Meski tak dijelaskan Mang Tantowi, saya menyimpulkan, nilai-nilai yang dihidupkan di sana dan dijalankan oleh pemimpinnya tentu sangat jauh berbeda dengan pemimpin dan pejabat di Indonesia, saat ini.

Di sana, Kata Mang Tantowi, orang yang memutuskan menjadi politisi itu karena ingin berperan lebih besar untuk melayani rakyatnya. 

Bahwa, kata Mang Tantowi, di sana ketika seseorang memutuskan untuk masuk politik, maka dia sadar sesadar-sadarnya bahwa dia sudah memutuskan menjadi seorang pelayan.

Politisi di sana bermacam-macam latar belakangnya. Ada pengusaha sukses. Ada lawyer sukses. Ada pedagang sukses. Macam-macam.

Nah, ketika dia memutuskan jadi politisi, background tadi hanya sekedar modal saja. Bahwa yang terpenting dari semua itu, mereka memenuhi panggilan untuk melayani bangsa dan negaranya.

Jadi ketika misalnya dia terpilih jadi anggota Dewan, maka konsentrasi dia adalah melayani masyarakat. 

Nah, karena konsepnya politisi itu adalah pelayan, kata Mang Tantowi, maka siapapun yang menjadi politisi, menjadi menteri, menjadi perdana menteri, itu bagi mereka, amanah.

Makanya di sana, siapapun yang jadi menteri, perdana menteri, itu tidak berjarak dengan rakyatnya.

Dan di sana, rakyat itu tidak ada keinginan mengganggu apalagi mencelakai politisi, menteri atau perdana menteri. Mereka bahkan bersyukur ada yang bersedia menjadi politisi. Menjadi pelayan rakyat.

Soal sikap dan gaya hidup juga menarik diketahui. Kata Mang Tantowi di sana biasa saja ditemukan misalnya pemimpin naik transportasi umum sama seperti rakyat pada umumnya, tanpa pengawalan. 

Bahkan kata Mang Tantowi, dia pernah dibuat terheran-heran ketika menyaksikan usai rapat, dan dia bersama duta besar lain mengantarkan perdana menteri Jacinda Ardern. Sang perdana menteri naik mobil biasa, jauh dari kesan mewah. Tanpa pengawalan.

Berbeda sekali dengan politisi atau pemimpin di negara kita, misalnya. Pemimpin di sini banyak memposisikan diri di atas dan bahkan menjadi orang yang dilayani, bukan melayani.

Lalu, rakyatnya juga. Mereka di sana punya mindset, pandangan hidup yang--bisa disimpulkan--sangat islami. Salah satu contoh adalah bagaimana mereka menjaga alam di sana tetap indah dan tidak dirusak. 

Bagi mereka di sana, masyarakat bisa menjaga alam karena memang menurut mereka semua itu hanya titipan saja. Dan mereka peduli untuk memastikan keindahan alam itu juga dinikmati oleh anak cucu mereka kelak.

Mereka peduli, mereka menjaga, sesuai apa yang dikehendaki Penciptanya.

Nah, nilai-nilai yang dimiliki mereka itu sudah lebih dari cukup untuk menampilkan wajah pemimpin dan negara yang peduli dan mencintai rakyatnya. Rakyat yang peduli dan mencintai lingkungan dan alamnya.

Mungkin masih ada poin-poin berharga lainnya yang terselip maupun disampaikan dengan gamblang dari bincang-bincang Aa Gym dengan Mang Tantowi. Tapi tadi saya keburu bermimpi tentang keindahan dan damainya di New Zealand.

Bagi yang mau nonton langsung silakan buka official Aa di youtube. Ini bukan endorse. 😁

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.