Semuanya Bisa Kita Dapatkan Gratis


Kantong-kantong plastik, berwarna-warni, digantungkan di depan, tepatnya di bagian luar pagar beberapa rumah warga.

Kantong plastik itu berisi aneka buah-buahan, ikan, dan keperluan dapur seperti cabe.

Warga dibolehkan mengambil bahan makanan tadi, secukupnya. Semuanya 'percuma' alias gratis.

Itu tayangan video yang cukup viral awal April lalu, dibagikan salah satu akun Facebook.

Kejadian di video katanya di salah satu desa di Sabah, kampung Pegunon di Malaysia sana. Itu terjadi di saat mereka menjalani masa karantina, dampak Covid-19.

Beberapa waktu lalu, seorang kenalan juga mempraktekkan tindakan yang sama. Dan dia sampaikan bahan makanan yang digantungkan di depan rumahnya, meski tidak begitu banyak, selalu berakhir dalam kondisi habis.

Dalam tayangan official CNN Indonesia di youtube, warga di daerah Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sudah beberapa hari juga melakukan cara yang hampir sama. Berbagi selama masa pandemi Covid-19.

Mereka (pengurus) menggantungkan plastik-plastik berisi bahan makanan, di tempat yang dibuat khusus. Aneka jenis bahan keperluan dapur dipaketkan dalam plastik, seperti ikan, sayur, minyak goreng, beras, dan lain-lain.

Siapa saja yang membutuhkan, dipersilahkan mengambil secukupnya. Bahan pangan tadi dibagikan secara gratis.

Begitulah warga menyiasati situasi pandemi ini dengan cara dan inisiatif mereka sendiri. Tanpa dikomandoi (Negara).

Di masa pandemi, di saat banyak orang terperangkap ke dalam masa krisis, dibutuhkan banyak inisiatif berbagi. Banyak orang butuh sentuhan dari yang ikhlas berderma, berbagi pada sesama.

Derma atau Dharma sebenarnya dikenal dan diajarkan dalam berbagai agama, kepercayaan dan adat-istiadat kita.

Ia adalah sebuah laku kebajikan, memberi suatu barang atau jasa dengan cuma-cuma atas dasar kemurahan hati. Sebuah wujud dari amal soleh.

Di Indonesia, orang yang berderma biasa kita sebut dermawan.

Dalam islam sendiri konsep berderma ini lebih dikenal dengan sedekah (Shadaqah).

Selain itu, juga ada yang disebut zakat, yang  aktivitasnya kurang lebih sama.

Baik itu berderma, bersedekah, berzakat, semua itu diutamakan (diberikan) kepada yang membutuhkan.

Kategori membutuhkan ini seringkali tercipta karena kondisi. Misalnya di kondisi pandemi Covid-19, hampir semua orang bisa terkategori membutuhkan derma.

Semua orang butuh masker atau APD untuk melindungi diri dari virus. Butuh asupan gizi dan vitamin yang baik untuk menguatkan imunitas.

Butuh fasilitas dan layanan kesehatan prima jika ternyata menjadi terinfeksi Covid-19.

Kebutuhan-kebutuhan itu, yang cenderung sulit didapat dengan normal--karena kondisi memang sedang tidak normal--membuat sebagian besar kita masuk kategori "yang membutuhkan" dalam masa pandemi ini.

Beragam cara kemudian orang menyiasati pengumpulan derma atau bantuan.

Pemerintah misalnya, telah melakonkan aktivitas crowdfunding dengan menggelar konser amal BPIP.

Ya, walaupun capaiannya, dalam hal mengumpulkan bantuan dari penderma, disebut kalah jauh dari almarhum Didi Kempot.

Sebagai EO acara itu, nampaknya Negara kurang begitu sukses.

Tapi baiklah. Pemerintah sudah juga menanggulangi dampak Covid-19 dengan menyiapkan akses warga mendapatkan pelatihan, dan sedikit uang bulanan.

Tapi kartu pra kerja yang ditunjukkan lewat prakerja.go.id itu jelas jauh dari kata bantuan (derma), bahkan ia kurang utuh untuk sekedar disebut menunaikan kewajiban.

Karena, ada layanan lain yang menawarkan hal yang sama, juga dilakukan warga negara lewat prakerja.org.

Inisiatornya, Andri W Kusuma, mengatakan upaya ini sebagai bentuk nyinyir kepada program pemerintah yang sebenarnya bisa gratis.

Kita bisa katakan yang dilakukan prakerja.org sebagai berderma atau bersadaqah dengan ilmunya, dengan menyelenggarakan berbagai pelatihan yang diberikan secara cuma-cuma itu. Semua bisa kita dapatkan gratis.

Di dunia politik dan ekonomi biasa kita dengar idiom "Tidak ada makan siang gratis".

Tapi, sorry to say,  "No free lunch" itu tidak berlaku dalam kemanusiaan.

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.