Yang Paling Dekat


Pukul 03.17 WIB dini hari, suara panggilan telepon dari Bapak membangunkan saya yang masih hanyut dalam mimpi. Itu hari Selasa tanggal 7 Juli 2020.

Dari seberang telepon, dengan pelan dan agak terbata Bapak mengabarkan bahwa nenek telah berpulang menghadap sang pemberi hidup. 

Berita itu cukup mengejutkan bagi saya. Meski nenek, yang hanya tinggal satu-satunya ini, tergolong tua, namun terakhir bertemu, terlihat untuk orang seumuran beliau, nenek masih tergolong sehat. Paling tidak dari segi makanan dan kesehatannya masih bisa terkontrol dan terpantau, karena nenek kami ini tinggal di rumah orang tua saya. 

Pertimbangan itu pula yang membuat nenek meninggalkan rumahnya yang cukup luas untuk dihuni satu orang, dan memilih ikut anaknya yang tak lain adalah ibu saya.

Dari pengakuannya kepada saya, nenek berusia 82 tahun. Kalau mengambil batasan umur hidup nabi SAW, nenek sudah jelas banyak diberi bonus oleh sang pencipta.

Terhadap berita kepergian nenek ini, meski agak terkejut saya berkesimpulan itu sesuatu yang wajar. Dan kami sekeluarga benar-benar mengikhlaskan kepergiannya.

Itu cerita kepergian nenek pada minggu sebelumnya. Sebelum adanya kejadian yang lebih mengagetkan lagi dan sempat membuat saya syok, pada Jumat 17 Juli 2020. 

Ba'da Shalat Jumat, seoarang rekan kerja di lokasi permukiman komunitas adat terpencil, secara mendadak, pergi menghadap sang khalik. Dia yang tak kuat hati saya sebut namanya, berpulang setelah sebelumnya diduga hilang. Bahkan kapan meninggalnya pun masih dalam perdebatan.

Selain tempat tinggal di lokasi kerja yang memang dekat, saudara laki-laki almarhumah ternyata adalah senior yang saya kenal cukup dekat. 

Maka terasa betul bagaimana terpukulnya keluarga atas kepergian almarhumah yang secara sangat tiba-tiba.

Baru sekitar tiga hari di rumah, sekitar beberapa hari yang lalu, saya mendapat kabar yang juga cukup mengejutkan jika suami dari adik sepupu juga telah tiada. Kepergiannya hanya berbilang hari dari kematian nenek saya sebelumnya. 

Yang membuat kaget, kabar itu baru saya ketahui setelah sekian hari berlalu.

Sepanjang Juli ini saja, kabar kematian, menyaksikan kematian, seakan menjadi pengisi hari-hari saya dalam rentang umur yang relatif masih muda ini. Kematian telah menjemput orang-orang terdekat dan lingkaran orang-orang dekat. 

Dari apa yang disaksikan tersebut makin menegaskan ayat-ayat Tuhan, bahwa kematian tak mengenal usia. Tak juga memandang gelar, jabatan dan harta. 

Jadwalnya tak ada yang kuasa memundurkan atau memperlambatnya meski sedetik. Waktunya, tak ada yang mampu memajukan atau mempercepat meski sekejap.

Dari serangkaian kejadian berpulangnya anak manusia ke hadapan penciptanya itu, membuat saya semakin menyadari: bahwa dalam hidup ini tidak ada yang paling dekat, kecuali kematian.  

Lahul Fatihah...

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.