Montecristo, Attendre et Espérer !


Tiga hari (tidak penuh) membaca buku Monte Cristo, karangan Alexandre Dumas, meski dengan waktu yang harus disiasati, sampai juga pada ujung kisah perjuangan, kepedihan, dan pembalasan Comte de Monte Cristo.

Novel terjemahan dari versi aslinya “Le Comte de Monte-Cristo”(1844), dan dalam transliterasinya ke bahasa Inggris berjudul “The Count of Monte Cristo”, karya Alexandre Dumas (1802 - 1870) ini memang merupakan sebuah karya yang melegenda.

Dalam versi Bahasa Indonesia yang diterjemahkan oleh Ermas, novel ini diberi judul Monte Cristo, dengan menampilkan nama pengarang yang sangat mencolok di bagian sampul. Tertera nama Alexandre Dumas.

Dalam versi Indonesia buku setebal 754 halaman ini dicetak KPG. Sebelumnya, pada 1980 dan 1992 diterbitkan oleh PT Dunia Pustaka Jaya.

Dalam novelnya pengarang sangat piawai memainkan alur cerita dan mengaduk emosi saat pembaca mengikuti kisah perjuangan, cinta, pengkhianatan, penderitaan, yang dirasakan pemuda pelaut Edmon Dantes. Lalu, pembalasan dan penghakiman yang ditunaikan sang Comte de Monte Cristo.

Selain mendedah sisi liar (hewani, bahkan setani) yang acap melekat pada setiap orang. Penulis juga menampilkan sisi-sisi malaikat, dan rupa-rupa kasih sayang Tuhan yang mewujud dalam kemurahhatian, ketulusan, kasih sayang anak manusia.

Liku-liku perjuangan, pengkhianatan, kebohongan, kemunafikan dan laku culas, ketamakan akan harta dan jabatan, kegilaan akan penghormatan yang sanggup mengorbankan siapa saja. Cinta yang terlalu--yang sejatinya tak layak disebut cinta--hingga terjerumus pada perbuatan dengan nilai kemanusiaan yang paling rendah, jauh dari kata bermoral.

Namun membatasi itu semua, pengarang seolah hendak menekankan bahwa selalu ada yang Maha Hebat di atas kehebatan-kehebatan kecil yang didaku manusia. Ada Tuhan di atas segalanya.

Membaca novel ini, meski menceritakan religiusitas dalam pandangan agama tertentu, namun mampu menebalkan--setidaknya menggelitik--kepercayaan kepada Sang Pemberi Hidup yang Maha Hidup (dalam agama apa saja, barangkali).

Singkatnya, meski ia menceritakan tentang cinta, perjuangan, pengkhianatan, dan pembalasan,  lebih jauh juga mengetengahkan soal keimanan.

Iman yang tak boleh lekang oleh peliknya kehidupan. Iman yang tak boleh berkurang oleh sekedar persoalan hidup, kesusahan dan penderitaan yamg teramat sangat sekalipun.

Bahwa di dunia manusia bukanlah penentu dalam segala rencana dan usahanya. Sepanjang ikhtiarnya itu, manusia hanya perlu terus menunggu dalam kesabaran yang tak pernah habis dan berharap dengan keyakinan yang tidak boleh goyah.

Seperti yang disampaikan dalam surat Comte de Monte Cristo, kepada Maximillen, pemuda yang baru saja ditinggalkan sahabat sejati, saudara sekaligus dianggap orang tuanya itu.

"..., et n'oubliez jamais que, jusqu'au fond où Dieu daignera dévoiler l'avenir à l'homme, toute la sagesse humaine sera dans ces deux mots : 'Attendre et espérer !' "

“..., and never forget that until the day when God shall deign to reveal the future to man, all human wisdom is summed up in the two words—“Wait and hope.”

Jangan pernah lupakan bahwa, sampai Tuhan berkenan membuka tabir masa depan seseorang, seluruh kebijaksanaan kemanusiaan bersimpul hanya kepada dua hal: Menunggu dan Mengharap.

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.