Si Kecil yang Besar dengan Anunya


Batangnya kokoh. Berdaun lebar. Dengan tinggi sepinggang orang dewasa. Sebagai bibit, kriterianya sudah sangat lengkap untuk dijadikan calon indukan dan untuk memulai membiakkan pisang pendek nan berbuah lebat.

Di sebelahnya, dengan tinggi sekitar 10 sampai 15 cm di atas permukaan tanah, anakan pisang dari rumpun yang sama, muncul malu-malu dengan penampakan yang tidak begitu menarik.

Sebagai bibit untuk dikembangbiakkan, anakan yang kedua agaknya gagal memenuhi kriteria yang lumayan, alih-alih sempurna. Bentuknya seperti gasing terbalik, dengan buntut yang agak panjang menghadap ke langit.

Keduanya adalah bibit pisang yang pada akhirnya akan dipisah paksa dari indukannya, hanya dengan sepatah kata: minta. Dua anakan pisang pendek itu segera berpindah kepemilikan setelah kalimat ijabnya terpenuhi.

Sebagai pemberian sekaligus hadiah dari seorang senior, bibit pisang itu, dengan semangat menggebu saya bawa pulang. Tanpa terasa, semangat itu jauh lebih menggebu tertuju kepada bibit pisang pertama: yang tampak besar dan menarik perhatian. Akan halnya si "gasing terbalik", jangankan ditempatkan dengan baik, layak pun tidak. Bahkan ia dilemparkan begitu saja ketika dimasukkan ke dalam karung yang membungkus bibit pisang yang lebih besar.

Sebagai manusia, inilah yang sering kita lakukan. Kerap terlalu berfokus (mengagungkan) yang tampak besar dan abai (merendahkan) pada sesuatu yang terlihat kecil.

Singkat kata, ditanamlah kedua bibit pisang tadi. Dengan kesalahan yang terulang lagi, yaitu tak diperlakukan sama, dan tidak disematkan harapan yang sama.

Berbilang hari hingga minggu, kedua anakan dirawat dengan kasih sayang yang juga berbeda. Hingga pda minggu ketiga, bibit yang awalnya menyerupai gasing terbalik seakan tenggelam ke tanah. Perlahan tunas-tunas daunnya berubah coklat dan mati.

Tinggallah bibit pisang yang memang dari awal sudah dalam kondisi prima. Karena sudah dianggap tumbuh normal dan sehat, terhadap pohon pisang ini perawatan khusus tak dilakukan lagi.

Hingga pada bulan kedua, si bibit pisang pendek yang tadinya tampak subur itu pelan-pelan daunnya menguning, dan batangnya pun layu lalu busuk. Pupus sudah harapan mengembangbiakkan pisang pendek yang disebut termasuk jenis pisang Ambon yang sudah melewati rekayasa genetik itu.

Di tengah keputusasaan itulah di hari berikutnya ternyata ada dua daun hijau membuka di titik bibit gasing terbalik yang sebelumnya menghilang karena daunnya layu.

Anakan yang saat itu sudah terlihat subur tersebut saya pindahkan ke dalam polybag, dan diletakkan di tempat yang cukup air dan panas matahari pagi.

Menyesal saya telah mengabaikannya ketika di awal ia tumbuh. Karena terlalu silau dengan yang nampak Wah, saya lupa pada sesuatu sebenarnya lebih punya nilai.

Kejadian dua bibit pisang tadi mengajarkan petuah bijak, bahwa Takdir punya cara dan jalannya sendiri yang tak bisa diduga manusia. Keberhasilan (kemenangan) tidak lahir dari kemudahan-kemudahan, lebih sering ia datang dari kegigihan berjuang dan kemampuan mengatasi banyak rintangan.

Sesuatu yang terlihat kecil, bisa jadi menyimpan potensi besar. Begitu pula, sesuatu yang terlihat besar, ternyata ia tak selalu mampu bertahan bahkan musnah karena kebesarannya (baca kesombongannya).

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.