Lord Luhut, Deddy Corbuzier, Ambisi Kompetisi dan Semangat Kolaborasi



Saya baru teringat lagi dengan opung Luhut Binsar Panjaitan, berkat status media sosial seorang kenalan (senior tepatnya). Bahwa LBP Menko Marinvest yang dianggap sebagai Lord itu, karena kekuasaannya yang disebut sangat luar biasa di pemerintahan, menyatakan dengan tegas soal kompetisi negara-negara di dunia.

Sebenarnya saya sudah mendengar pernyataan serupa lewat podcast Deddy Corbuzier beberapa minggu lalu, tepatnya 6 Juli 2021. Sebagai penikmat—agak setia—podcast mantan pesulap (mentalist) itu, saya sempat kaget dan agak kecewa juga ketika Deddy memutuskan berhenti (sampai waktu yang tidak ditentukan) dari dunia medsos dan per-youtube-an yang menurut dia sendiri di akun instagramnya karena "beberapa alasan".

Padahal menurut saya, channel YouTube Deddy ini cukup mencerahkan. Banyak dan berani menghadirkan tokoh lintas background, yang turut memperjelas suatu persoalan. Meski dia juga sempat diprotes karena mengangkat dan mengundang bintang tamu yang dianggap tidak pantas diundang.

Mengenai cerita berhentinya Deddy dari medsos, kita sudahi saja dulu. Toh, beberapa hari ini dia juga sudah mulai mengunggah konten youtube. Kita lanjut soal Luhut, dan peryataannya yang penting tersebut.

“Negara maju itu tidak mau negara berkembang jadi negara maju,” kata Luhut di podcast Deddy, waktu itu.

Lord bahkan mengulangi pernyataannya selang beberapa waktu kemudian. “Saya ulangi ya. Negara maju, tidak mau, tidak rela, negara berkembang itu jadi negara maju.”

Tapi LBP juga membuat pernyataan optimistis. “Kalau bukan dari kita sendiri membuat kita jadi negara maju, nggak akan jalan, Ded,” kata dia. “Orang akan hajar kita terus.”

Untuk pesan yang optimis, saya pada posisi sangat sepakat. Tapi untuk yang di awal, yang soal kompetisi itu, saya kurang sependapat dan akan menjawab dengan kolaborasi.

Kita lanjut dulu kutipan wawancara Deddy bersama opung Luhut.

“berarti benar, even dalam pandemi pun ada mafia-mafia yang diuntungkan,” kata Deddy meminta tanggapan Lord Luhut.

“Sangat. Bukan ada, sangat!” jawab Luhut lugas.

Dengan mengungkapkan hal itu, LBP atau lord Luhut telah mengetengahkan fakta penting. Ditambah dengan penjelasannya yang lain, ia juga mengamini bahkan ikut mendukung ambisi berkompetisi dalam bernegara dan kehidupan antar negara di dunia.

Memang itu realitasnya. Tak bisa dinafikan.

Tapi sebagai orang merdeka, yang baru sekitar seminggu lalu juga sudah memperingati hari kemerdekaan, saya akan mengutarakan opini saya akan hal ini. Layaknya saya merdeka berpendapat, siapa saja yang membaca catatan ini, juga merdeka menentukan posisinya: setuju, mendukung, menolak, bahkan berseberangan, atau mau menuliskan bantahan berikut argumentasinya.

Lho. Kok jadi serius? 

Tenang, saya akan membuatnya santai dan mudah.

Baiklah. 
Mari perhatikan makna yang tersirat dari pernyataan lord Luhut tadi. Dalam redaksi saya, Luhut mengatakan bahwa "Tidak ada negara maju (manapun) yang ingin (rela, sudi) melihat negara berkembang berubah menjadi negara maju. Dalam arti kata tidak ada negara manapun di dunia yang ingin negara lain sama majunya atau lebih maju dari mereka (negara tersebut)”.

Atau, jika saya perjelas lagi: Negara yang saat ini berada dalam kondisi atau berstatus sebagai negara maju, tidak akan membiarkan ada negara lain maju, sama majunya, atau lebih maju darinya. 

Lebih ekstrim lagi, negara yang saat ini berada di posisi sudah maju, makmur, akan melakukan berbagai cara untuk agar negara lain tidak ada yang menyamai atau lebih maju, lebih makmur darinya.

Itu pembacaan saya seputar pernyataan lord Luhut. Jika saya simpulkan lagi pernyataan itu, ia menyiratkan sepenuhnya ambisi bersaing, segalanya serba kompetisi. Bahwa semua di dunia ini berkompetisi satu sama lain. 

Negara-negara di dunia berkompetisi saling bersaing untuk menjadi yang terdepan. Untuk menjadi yang paling maju, walaupun dengan jalan menjatuhkan atau bahkan memerangi yang lain.

Jika belum menjadi negara maju, maka akan melakukan bermacam cara untuk berada di posisi tersebut. Dan jika sudah berada di posisi negara maju, dengan segenap kemampuannya akan menghadang setiap negara yang ingin berubah ke posisi negara maju. Ini sadis! Sangat sadis.

Lebih sadis lagi, bahwa semua patokan ke-maju-an itu tadi adalah semata-mata materi. Jauh dari sesuatu yang lebih bernilai: Kemanusiaan, misalnya. Atau Kebudayaan. Atau cara hidup selaras dengan kehendak alam. Atau hal-hal lainnya yang lebih substansial--bukan melulu materialistis.

Sebenarnya kalimat Luhut itu tadi berlaku tidak hanya untuk tema negara. Pun berlaku dalam subjek kelompok lainnya, politik, bisnis, dan lain sebagainya. Berlaku pula pada individu-individu, tentu yang memiliki prinsip seperti disebutkan Luhut. Bahwa, tidak ada negara yang (sudah) maju (secara materi) membiarkan negara berkembang (atau yang masih berjuang) berubah menjadi negara maju (juga secara materi). 

Jika digunakan dalam defenisi “kelompok”, maka bunyinya begini: Tidak ada kelompok yang (sudah) maju (secara materi) membiarkan kelompok berkembang (atau yang masih berjuang) berubah menjadi kelompok yang maju (juga secara materi).

Sama halnya jika diterapkan dalam terma individu: Bahwa, tidak ada individu yang (sudah) maju (secara materi) membiarkan individu berkembang (atau yang masih berjuang) berubah menjadi individu maju (juga secara materi). 

Di sinilah bahayanya ambisi berkompetisi tersebut. Semua subjek akan menegasikan, menghadang bahkan memerangi yang bukan dirinya (liyan).

Begitulah. Dalam ambisi kompetisi, banyak orang akan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Hampir-hampir sulit mewujudkan sikap jujur, fair, gigih berikhtiar dan tetap siap menerima hasil terburuk. Sikap yang tetap menaruh kemanusiaan di ujung upayanya. Menempatkan Tuhan di atas segala-galanya.

Jelas berkompetisi tidak sejalan dengan nilai dalam pertandingan olahraga sekalipun. Itu standing opinion saya. Kompetisi yang seperti disebutkan di atas, cenderung sulit mewujudkan sprotifitas. Meskipun di dunia olahraga yang dianggap tempat yang paling sportif.

Lantas, apa yang mewakili itu? Sportifitas tadi?

Saya kira kita sudah mengenalnya sejak lama—namun mungkin belum benar-benar mempraktikkannya—yaitu Kolaborasi atau saling mengisi dan saling bekerja sama. Sikap atau semangat kolaborasi atau berkolaborasi ini terasa lebih mewakili jiwa sportif tadi. 

Semangat kolaborasi lebih mengedepankan honesty, fairness dan sportifitas. Dalam pertandingan, misalnya, orang tetap bertanding, tapi semangatnya berbeda. Orang akan dengan rela mengakui dan menempatkan orang lain yang pantas mendapat posisi tertentu (menang, misalnya) hanya jika ia memang pantas atau punya kualitas untuk menempati posisi tersebut. 

Dalam semangat kolaboratif orang akan lebih fokus melihat sisi lebih atau kelebihan, atau kekuatan dirinya dan orang atau pihak lain. Mengupayakan agar kelebihan yang dimiliki lahir dan digunakan dalam proporsi serta kualitas terbaik. Semua akan mengusahakan yang terbaik dari dirinya.

Berbeda halnya dengan pandangan yang mengedepankan ambisi kompetisi (kompetitif). Ia cenderung melihat titik lemah, atau mencari (bahkan mencari-cari) kelemahan pihak lain untuk mengambil keuntungan dari kekurangan itu. 

Ambisi berkompetisi akan cenderung mengambil keuntungan, sementara semangat berkolaborasi lebih pada ikut ambil bagian atau memberi nilai dalam peran masing-masing.

Coba lihat pernyataan Deddy Corbuzier yang diamini Luhut. Berikut saya tulis ulang.

“berarti benar, even dalam pandemi pun ada mafia-mafia yang diuntungkan,” kata Deddy meminta tanggapan Lord Luhut.

“Sangat. Bukan ada, sangat!” jawab Luhut lugas.

Jadi jelas. Di tengah pagebluk, bagi orang-orang dengan ambisi berkompetisi tadi, ia semacam "blessing in disguise" meski dalam konotasi yang sangat negatif.

Di masa pandemi seperti saat ini, orang-orang atau kelompok yang memegang nilai hidup mengedepankan ambisi kompetisi, akan cenderung mencari keuntungan untuk pribadi maupun kelompoknya dari fenomena yang terjadi, even dari kesulitan yang dialami orang lain.  

Berbeda jika kita menghadapi pandemi dengan semangat kolaborasi. Kerja sama. Setiap orang akan ambil bagian dan mempersembahkan sekecil apa pun yang ia bisa dan mampu berikan untuk melewati badai Covid-19 dengan selamat.

Jika ambisi kompetisi lebih egoistik, bahkan bisa sangat primordial, ke-aku-an, ke-suku-an, ke-kami-an, semangat kolaborasi terasa lebih sosialistis-humanis, ke-kita-an, dan jelas sangat futuristis.

Ambisi kompetisi memang sudah seharusnya diganti menjadi semangat kolaborasi. Karena sikap berkompetisi ini hanya akan membenarkan idiom “Homo homini lupus” yang sudah berkarat itu, yang berarti "Manusia adalah serigala bagi sesamanya (manusia lainnya)". Memang dari dulu kompetisi itu sudah terjadi, hanya saja berganti rupa.

Maka itu, semangat kolaborasi yang diterapkan oleh setiap orang akan menghadirkan dunia—yang tadinya sangat kompetitif—menjadi rumah yang damai bagi semua.

Jadi, untuk case Indonesia, setelah sekian banyak kesukaran, rintangan, berbagai persoalan dalam bernegara sepanjang 76 tahun merdeka, kita berambisi dalam kompetisi atau bersemangat dengan kolaborasi?

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.