Murah Merah Bukan Murah Meriah



Beberapa hari ini secara berturut-turut saya mendapat laporan dari bendahara cum nyonyah rumah (istri saya), bahwa harga cabai kembali merosot. Per hari ini, dari pengalaman ia berbelanja, cabai atau cabe merah dijual di kisaran harga Rp 13.000 per kg.


Sebenarnya itu tadi bukan laporan tepatnya, tapi pemantik obrolan saja. Atau sekedar celotehan khas ibu rumah tangga: dulu ngoceh harga cabe yang selangit sampai 100-an ribu rupiah, kini juga terkaget-kaget harga si merah pedas yang terjun bebas.


Istri saya sebenarnya belanja di warung sayur biasa, bukan di pasar tradisional yang biasanya menjual kebutuhan dapur lebih murah. Juga bukan di pasar tradisional-modern seperti pasar angsoduo itu.


Dua hari lalu, saya agak kaget juga (antara senang dan heran), bahwa harga cabai merah berkisar di Rp 15.000 per kilogram. Dan, baru kemarin harga bumbu masakan "wajib" sebagian besar orang Indonesia itu, harga jualnya pada angka empat belas ribu rupiah per kilo.


Dengan harga cabai di angka saat ini, andai saja lambung ini masih sedigdaya dahulu, pasti saya pesan masakan ekstra pedas ke istri. Level 10 kalau perlu. Yang kalau misal saya beli gado-gado itu, pakai karetnya pasti dua, biar gak ketukar sama yang lain. Hehe


Tapi, tetap saja saya heran ihwal harga cabai ini. Keheranan saya kemudian memancing pikiran saya untuk bertanya: Apa yang menyebabkan harga cabai bisa sedemikian rendah. Apa juga terdampak pandemi? Apa orang-orang kemudian banyak mengurangi konsumsi cabai, atau lebih jauh mengurangi makan?


Saya juga hampir yakin menduga bahwa harga cabai yang murah karena rantai distribusi yang semakin pendek dari petani ke konsumen. Karena aneka pembatasan gerak pengepul.


Katanya, ini katanya, dulu yang menikmati hangatnya keuntungan cabai adalah mulai dari jajaran tengkulak kecil hingga pengepul besar. Sementara petani, kalau tak jual sendiri, maka hanya akan mendengar berita harga cabai yang tinggi.


Tapi sebenarnya saya juga tidak ada informasi pasti apakah jumlah pasokan cabai saat ini sedang banjir, karena panen bersamaan. Pun tidak ada info ada agen atau orang tertentu, atau program wakil rakyat, atau pemerintah, yang memborong cabai dan mendistribusikannya ke pasar dengan harga murah.


Bisa jadi juga beberapa dugaan itu adalah musabab harga cabai yang bersahabat di kantong banyak orang. Bisa jadi.


Tapi tunggu dulu.

Apa, jangan-jangan cabai sudah tak sepenting dulu perannya di masakan para ibu-ibu, sehingga sudah berkurang peminatnya. Dan itu menyebabkan over supply cabe di pasaran, yang kemudian membawa harga ke posisi sekarang.


Apa mungkin, orang-orang sudah tidak perlu cabai lagi untuk memberi rasa pedas masakan, karena hidup di masa pandemi sendiri yang juga sudah pake karet dua.


Entahlah.

Tidak ada komentar

Tulis komentar sahabat di sini...

Diberdayakan oleh Blogger.