Catatan Jhoni

Inspirasi dan Informasi

"Ditulis dengan Hati dan Hati-hati"
Facebook  Twitter  Google+ Instagram Linkedin Path Gmail

Mengarungi liuk Batanghari: Kebanggaan yang tak lagi dibanggakan

Batanghari, dulu sempat menjadi saksi kejayaan raja-raja Jambi. Liuknya turut melintasi beberapa abad, dan menjadi saksi sejarah kejayaan Jambi masa silam. Sungai Batanghari banyak menyimpan nilai sejarah. Pada zaman kerajaan  Melayu (atau Mo-Lo-yeu, dalam aksara China kuno) dan Kerajaan Sriwijaya  ia berfungsi sebagai pusat pelayaran /transportasi dan perdagangan/perekonomiann. Manfaatnya yang besar telah dirasa semasa itu--hingga sekarang.
Batanghari melintasi bumi sepucuk jambi sembilan lurah. Hulunya terletak di Dharmasraya, Sumatera Barat, sementara muaranya di ujung jabung (Tanjab timur). Sepanjang aliran sungai - dengan panjang 3.322 km, dapat kita temukan banyak muara anak sungai, seperti Muara Jujuhan, Muara Tabir, Muara Tebo, dan beberapa lainnya.



Nama Batanghari, sebagai sungai kebanggaan warga Jambi, sempat diabadikan lewat lagu dan penamaan berbagai produk dan usaha. Lagu Batanghari misalnya, adalah dedikasi seniman jambi -kala itu, untuk menampilkan sungai Batanghari sebagai kebanggaan Jambi.
Batanghari hanya tinggal liukan.
Pekat airnya sejalan dengan pekat kondisinya, saat ini. Batanghari tak diperhatikan. Bahkan bangunan megapolitan telah ditanamkan di bibir (tepian) sungai. Beton bertulangkan baja ditancapkan di wilayah yang sampai sekarang masih dipertanyakan izin Amdalnya. Belum lagi tingkat pencemaran yang terbilang tinggi, sehingga disangsikan keamanannya bila dikonsumsi, maupun untuk berbagai keperluan hidup lainnya.
Seperti dilansir banyak media, bahwa cemaran sungai Batanghari sudah berada pada taraf kritis. Antara.News (6/6/2010), menyebutkan bahwa sungai Batang Tebo yang merupakan anak sungai Batanghari, tingkat pencemarannya memprihatinkan. Di Media Indonesia (11/5/2010), menerbitkan judul, “Warga Dilarang Manfaatkan Air Sungai Batanghari karena Tercemar”. Pencemaran juga terjadi di sepanjang anak sungai Batanghari. Masumai yang terletak di Merangin, Muara Tebo, dan anak sungai Batanghari yang lain.
Di harian Jambi Independent (7/5/2010), disebutkan, sejumlah zat dari aktivitas industri dan limbah, telah mencemari aliran sungai. Belum lagi zat merkuri yang dihasilkan dari aktivitas penambangan emas ilegal. 
Hasil penelitian Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Jambi menemukan adanya 38 titik di sungai terbesar di provinsi ini yang dicemari bahan kimia berbahaya. Pencemaran itu diduga berasal dari praktik penambangan emas tanpa izin (PETI).
Secara umum, kualitas air Sungai Batanghari dari hulu hingga hilir mengalami penurunan. Tercatat jumlah sumber pencemaran ke arah hilir, terutama pencemaran limbah domestik dan industry, meningkat (BPDAS Batanghari). Penurunan kualitas air Sungai Batanghari saat ini mengakibatkan ia tidak bisa digunakan sebagai sumber air minum .  Kondisi air sungai pada segmen hulu, tengah dan hilir dikuatkan oleh data dari Kementerian Lingkungan Hidup, (Kemen LH) seperti berikut:
Peningkatan pencemaran ini berasal dari aktivitas industri dan masyarakat yang memanfaatkan Sungai. Limbah domestik dari warga yang tinggal di bantaran sungai dan pencemaran yang bersumber dari kegiatan tambang emas ilegal yang dilakukan oleh kelompok masyarakat setempat (kebanyakan didalangi oleh para pengusaha penambangan emas). Di daerah hulu juga ditemukan adanya pencemaran dari limbah industri yang masuk melalui anak-anak Sungai Batanghari.



Pencemaran sungai Batanghari dapat terlihat secara kasat mata dari airnya yang telah berwarna kuning, keruh. Setidaknya hal tersebut dapat menjadi indikator, secara awam. Ini sudah jadi rahasia umum di tengah masyarakat jambi.
Namun, Batanghari masihlah tetap sebuah sungai. Kekeruhannya tak menjadi alasan untuk menghentikan alirannya di negeri tanah pilih ini. Liuk tubuhnya telah menjadi saksi mati sejarah jambi sejak berabad-abad lamanya, semenjak negeri ini masih menjadi cikal bakal propinsi jambi, kelak. Aliran airnya, masih, dan akan terus mencatat peradaban Jambi di masa yang akan datang. 
Jernih, maupun tidak!
Ditulis oleh Jhoni Imron (23 juli 2010) revisi tanggal 25 July 2010
Labels: Info, Jambi, lingkungan, Opini, pencemaran, Sungai Batanghari

Thanks for reading Mengarungi liuk Batanghari: Kebanggaan yang tak lagi dibanggakan. Please share...!

Inspirasi dan Informasi Lainnya

Kata Mutiara

Kata Mutiara
Menulis adalah kodrat yang tak boleh pupus oleh alasan apa pun. Karena bersama itu, kita akan menyadari arti pentingnya belajar, membaca, dan berbagi.
Back To Top